Narapidana Lapas Blangpidie Dilatih Keterampilan

     Blangpidie, Aceh, jurnalsumatra.com – Sebanyak 38 narapidana yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas III Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dilatih berbagai keterampilan agar memiliki kemampuan membuka usaha setelah menjalani masa hukuman.
Kepala Lapas Blangpidie, Erwin Saleh Siregar di Blangpidie, Rabu mengatakan, pemberian keterampilan tersebut diberikan secara kontinu kepada seluruh warga binaan sesuai minat dan kemauan masing-masing narapidana yang berjumlah 38 orang.
“Jumlah narapidana di Lapas kita ini 38 orang. Mereka semua kita latih keterampilan. Ada yang menjahit, memangkas rambut, service handphone, listrik, dan ada juga keterampilan cara memanfaatkan kardus bekas untuk menjadi barang bernilai ekonomi,” tuturnya.
Kata dia, beberapa warga binaan Lapas saat ini sudah bisa memanfaatkan kardus bekas untuk membuat berbagai kerajinan tangan yang berharga untuk cenderamata, seperti, miniatur kapal laut, perahu nelayan, mobil mainan, masjid hingga miniatur rumah-rumahan.
Meskipun belum dipasarkan secara luas, lanjut dia, namun semua hasil kerajinan tangan para narapidana Lapas klas III Blangpidie sudah banyak yang dibeli oleh keluarga warga binaan untuk cenderamata dibawa pulang ke Banda Aceh dan ke Medan, Sumatera Utara.
Selain kerajinan tangan, lanjut dia, sipil Lapas Blangpidie juga mengajarkan ilmu agama kepada seluruh warga binaan sebagaimana Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 tahun 2012.
Setiap hari Jumat,  Narapidana diajarkan membaca Alquran sesuai tajwid. Mereka juga belajar tentang tatacara sholat jenazah yang diajarkan oleh ustadz yang didatangkan dari pondok-pondok pesantren.
“Kita ada kerjasama dengan pondok-pondok pesantren untuk program asimilasi menyangkut keagamaan. Kalau untuk keterampilan kita ada juga kerjasama dengan Balai Latihan Kerja Provinsi Aceh,” katanya sembari mengajak wartawan masuk melihat hasil kerajinan narapidana.

Setiba di dalam, suara bising mesin jahit terdengar nyaring di ruangan Lapas Blangpidie. Sebagian warga binaan terlihat sibuk menjahit dan mengukur kain-kain dengan peralatan ditanganya.
Berbeda dengan Abduh Sagala (43), narapidana yang satu ini sibuk membuat miniatur kapal laut, perahu nelayan, mobil mainan, dan rumah-rumahan yang bahan dasarnya dari kardus bekas, lem dan cat.
“Selama berada dalam Lapas ini saya sudah bisa produksi miniatur dari kardus bekas ini,” ungkap warga Kota Subulussalam yang ditahan di Lapas Blangpidie karena terlibat kasus narkoba.
Menurut keterangan Abduh Sagala, dirinya menjadi tahanan lapas Blangpidie gara-gara menghisap, dan mengedar narkoba jenis ganja di Kota Subulussalam kemudian ditangkap aparat kepolisian.
“Saya ditangkap tahun 2014. Pengadilan menghukum saya selama 7 tahun lebih. Jadi, 1 tahun 4 bulan sudah saya jalani di rutan Aceh Singkil. Kemudian dipindahkan ke Lapas ini,” jelas ayah 5 orang anak itu
Selama pindah ke Lapas Blangpidie, Narapidana ini mengaku telah bisa membuat berbagai jenis kerajinan tangan yang berharga untuk cenderamata seperti, miniatur kapal laut, perahu nelayan, mobil mainan, masjid hingga miniatur rumah-rumahan.
“Insyaallah nanti kalau saya sudah keluar dari lapas ini, saya akan membuka usaha kerajinan tangan ini untuk menghidupi keluarga dan anak-anak saya. Saya tidak mau lagi hisap-hisap ganja itu,” tuturnya.(anjas)

Leave a Reply