Nelayan Minta Pemerintah Pasang Rumpon Di Sabang

     Sabang, Aceh, jurnalsumatra.com – Panglima Laot (Lembaga Adat Laut) Wilayah Gampong (Desa) Ie Meulee, Sabang Saiful Bahri meminta pemerintah memasangkan rumpon di perairan lepas pantai Pulau Weh.
“Demi meningkatkan pendapatan nelayan, kami berharap pemerintah memasangkan rumpon-rumpon di lepas pantai Sabang,” kata Saiful Bahri yang sering disapa Yah Goh, di Pantai Jaya, Ie Meulee, Sabang, Provinsi Aceh, Senin.
Panglima Laot itu menyampaikan, belakangan ini tangkapan nelayan menurun drastis karena banyak rumpon yang dipasang sekira 4 mil lebih dari lepas pantai Pulau Weh hilang dibawa arus.
“Rumpon yang dipasang pengusaha-pengusaha perikanan 4 mil lebih dari lepas pantai Sabang sebagian segaja dipotong dan ada juga hilang dibawa arus, dan karena rumpon banyak hilang pendapatan nelayan pun menurun,” ujar Yah Goh, didampigi sejumlah masyarakat nelayan setempat.
Lebih lanjut dia menyatakan, masyarakat nelayan kepulauan paling ujung barat Indonesia dominan melaut menggunakan boat thet-thet 5 gross tonnage (GT) dan menangkap ikan dengan cara tradisional sebagaimana yang dilakukan para nelayan terdahulu.
“Jika pemerintah serius ingin menyejahterakan nelayan solusi konkret adalah memasang rumpon yang banyak di sekitar 4 mil ke atas dari lepas pantai Pulau Weh,” katanya pula.

     Panglima Laot Wilayah Ie Meulee mengakui, Pemkot Sabang pernah memberikan bantuan dua rumpon yakni tahun 2014 dan 2015 jenis air dalam dan dangkal.
“Syukur kami pernah mendapat dua bantuan rumpon pada tahun tersebut dan kami sangat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat serius menyejahterakan nelayan pulau terluar ini,” katanya pula.
Kepulauan terluar paling ujung barat Sumatera yang dikelilingi Selat Malaka dan samudra meliputi lima pulau, di antaranya Pulau Weh, Klah, Seulako, Ruboliah, dan Rondo, kemudian sepanjang tahun hanya dilanda dua musim yakni timur dan barat.
Secara terpisah Panglima Loat Wilayah Kota Sabang Ali Rani mengakui, saat musim pancaroba banyak nelayan pulau terluar enggan melaut demi keselamatan semata.
“Jika cuaca buruk nelayan diingatkan agar lebih waspada ketika melaut, dan sebagian nelayan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terpaksa tetap melaut di teluk atau sekitar 2 mil dari lepas pantai,” katanya pula.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 1 =