NTP Banten Pada Januari Naik 0,13 Persen

     Serang, jurnalsumatra.com – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Banten pada Januari 2018 naik 0,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya dari 101,54 menjadi 101,66.
Meningkatnya NTP Banten pada Januari dikarenakan laju kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang sebesar 1,76 persen lebih cepat dari laju kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang sebesar 1,64 persen, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, Kamis.
Sektor pertanian yang memberikan andil besar meningkatnya NTP itu adalah subsektor tanaman pangan yang naik 2,73 persen. Sedangkan NTP pada keempat subsektor lainnya justru mengalami penurunan, yang sedikit menghambat kenaikan yang terjadi pada NTP umum.
Keempat subsektor itu adalah subsektor Hortikultura turun 1,62 persen dari 98,64 menjadi 97,04, subsektor perkebunan rakyat turun 2,84 persen,subsektor peternakan turun 2,10 persen dan subsektor perikanan turun 0,54 persen dari 107,33 menjadi 106,75.
It Banten mengalami kenaikan sebesar 1,76 persen dibanding It Desember, yaitu naik dari 132,68 menjadi 135,02. Kenaikan It pada Januari 2018 disebabkan naiknya It pada subsektor tanaman pangan dan subsektor perikanan yang masing-masing naik 4,45 persen dan 1,09 persen.
Pada Januari 2018 indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan sebesar 1,64 persen. Hal ini terjadi karena Indeks Konsumsi Rumah Tangga  mengalami kenaikan 1,83 persen dan Indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 1,04 persen.  Kenaikan indeks BPPBM ini disebabkan naiknya semua kelompok yakni kelompok bibit, kelompok pupuk, obat-obatan, dan pakan, kelompok biaya sewa dan pengeluaran lain, kelompok transportasi, kelompok penambahan barang modal, dan kelompok upah buruh.

Dari pantauan di empat kabupaten (Lebak, Pandeglang, Serang, Tangerang),  terjadi inflasi di perdesaan sebesar 1,83 persen. Pemicu inflasi ini adalah kelompok bahan makanan sebesar 3,58 persen. Lima kelompok lainnya yang mengalami inflasi yakni kelompok makanan jadi,minuman, rokok dan tembakau sebesar 1,13 persen, kelompok sandang sebesar 0,71 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,12 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,47 persen, dan kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 0,20 persen.
Sedangkan kelompok perumahan mengalami deflasi 0,27 persen.
Dari 33 provinsi di Indonesia sebanyak 17 provinsi yang NTP-nya berada di atas angka 100. NTP tertinggi dicapai oleh Provinsi Jawa Barat dengan nilai indeks sebesar 109,25 yang diikuti oleh Provinsi Sulawesi Barat sebesar 108,89. Sedangkan Nilai Tukar Petani terendah terjadi di Provinsi Bangka Belitung sebesar 90,15.
NTP nasional sebesar 102,92 yang mengalami penurunan sebesar 0,14 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 103,06, kata Soebeno.
Nilai Tukar usaha pertanian (NTUP) Banten sebesar 108,58 atau mengalami kenaikan sebesar 0,72 persen. Hal ini terjadi, kata Soebeno, karena laju kenaikan Indeks Harga yang Diterima petani (It) yang sebesar 1,76 persen lebih cepat jika dibandingkan dengan laju kenaikan pada Indeks BPPBM yang sebesar 1,04 persen. Jika dilihat per subsektor, kenaikan NTUP disebabkan oleh naiknya NTUP pada dua subsektor yakni subsektor tanaman pangan naik 3,12 persen dan subsektor perikanan naik 0,18 persen.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − ten =