Palembang Ladang Minyak Terbesar Asia Tenggara

PALEMBANG adalah ibu kota di Sumatra dan terletak di tempat yang dikenal sebagai ladang minyak terkaya di Asia Tenggara.  Produksi minyak di Pladjoe dimulai pada tahun 1907 dan pada tahun 1940 produksi Pladjoe telah mencapai 30 juta barel per tahun, hampir separuh dari total keseluruhan cadangan minyak milik Hindia Belanda .

Kilang Pladjoe memproduksi sejumlah besar bensin dari minyak ringan lokal dan pada akhirnya akan menyediakan 22% dari minyak bakar Jepang dan 78% dari bensin penerbangannya.

Kota ini dapat dicapai dengan kapal melalui Sungai Musi, yang biasa digunakan untuk sarana pengiriman minyak .

Sementara itu Populasi Palembang pada tahun 1941 adalah sekitar 108.200 orang. Kota itu kuasai pasukan Jepang yang dilengkapi dengan senjata berat yang sangat besar.

Beberapa sumber menunjukkan bahwa enam batalyon berada di daerah itu pada saat serangan Jepang, pada 14 Februari 1942.

Kota ini memiliki dua landasan kapal terbang di di daerah P1 landasan udara delapan mil (13 km) di sebelah utara sedangkan landasan udara P2 adalah 40 mil (64 km) selatan-barat daya.

Setiap landasan udara hanya memiliki dua senjata antipesawat 40mm.Landasan udara awalnya mengoperasikan pesawat Belanda untuk mendukung kekuatan di Singapura , tetapi akhirnya sisa-sisa skuadron udara Inggris dan Australia di Singapura menyerang Palembang bersama dengan lebih dari 3000 personel udara.

Pertempuran Palembang pada 6 Februari 1942, Belanda sadar bahwa Palembang adalah target invasi apalagi Jepang menunjukkan kekuatan angkatan laut Jepang yang berkonsentrasi di dekat Kepulauan Anambas ( 105.667E 3.1N ) , sedangan pihak Prancis melaporkan kehadiran divisi udara Jepang.

Jepang merebut Muntok pada 13 Februari dan pasukan gabungan gabungan Sekutu berlayar untuk mencegat konvoi invasi Jepang keesokan harinya.

Namun, pasukan Sekutu terlihat oleh pesawat amfibi Jepang pada pagi hari tanggal 15 Februari dan terjadi serangan udara hebat sehingga pasukan sekutu harus dipaksa untuk mundur.

Pada saat itu Jepang sudah memulai operasi mereka. Serangan Jepang awal di Palembang adalah dengan menerjunkkan sekitar 360 penerjun payung dari 1 Resimen Parasut pada tanggal 14 Februari 1942 dan menguasai P1 lapangan terbang dan kilang Pladjoe.

Satu tambahan 100 pasukan terjun mendarat keesokan harinya dan Palembang diduduki oleh saat sore. Pada tanggal 16, pasukan payung bersana 229 Resimen ditambah satu batalion dari 230 Resimen datang melalui jalur Sungai Musi.

Operasi parasut ini direncanakan dengan melakukan studi lapangan di Palembang, mempelajari foto udara sebelum perang dari area yang disediakan oleh Mitsui , dan mengunjungi ladang-ladang Jepang di Nigata untuk membiasakan diri dengan industri.

Enam spesialis Nakano melompat bersama pasukan terjun payung, termasuk satu di gelombang pertama.

Lalu Jepang mendirikan tiga kamp untuk tahanan perang di daerah tersebut.

Pada bulan Mei 1944, komandan Kamp Soengei Geru, Nakai, mengabaikan permohonan oleh seorang ahli bedah dari angkatan laut Inggris untuk membangun bangsal isolasi bagi sejumlah pasien yang menderita disentri.

Akibatnya, penyakit itu menyebar ke seluruh kamp. Para tahanan sangat membenci Sersan Ito, , yang mengambil barang -barang dan pakaian Palang Merah para tahanan untuk dijual di Palembang.

Ito sering menyatakan bahwa kematian semua tahanan asing berarti bahwa penjaga kamp bisa pulang. Tahanan asing ini kadang-kadang dihukum dengan dikurung di kandang kawat berduri 6 ‘x 4’ (2 m x 1,5 m) yang dibangun di atas sarang semut merah.

Seorang serdadu Belanda yang menderita gangguan mental dikurung tanpa makanan dan air sampai dia mati.

Operasi MERIDIAN .

PADA tanggal 24 Januari 1945, pesawat perang Inggris menyerang Palembang. Serangan itu diulang lima hari kemudian. Serangan ini berhasil mengurangi produksi minyak Pladjoe menjadi sebesar 75%.(dd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 11 =