Panitera Pengganti Dituntut 6 Tahun Penjara

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Tarmizi dituntut 6 tahun penjara ditambah denda Rp250 juta subsider 3 bulan kurungan karena dinilai terbukti menerima suap sejumlah Rp425 juta dan fasilitas penginapan dan transportasi senilai Rp9,5 juta dari pengusaha.
“Agar majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan terdakwa Tarmizi dinyatakan secara sah dan meyakinkan secara hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi.”
“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Tarmizi dengan pidana penjara selama 6 tahun ditambah pidana denda Rp250 juta dengan ketentuan bila tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan,” kata jaksa penuntut umum KPK Dody Sukmono di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis.
Tuntutan itu berdasarkan dakwaan pertama dari pasal 12 huruf a atau pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat 1 KUHP.
Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa bertentangan dengan semangat masyarakat, bangsa dan negara untuk memberantas korupsi, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah untuk menciptakan pemerintahan yang bebas KKN, perbuatan terdakwa mencederai proses penegakan hukum.
“Hal meringankan, terdakwa masih punya tanggungan keluarga, kooperatif dan mengakuti terus terang serta mengembalikan Rp36,2 juta dari uang yang dinikmatinya,” tambah jaksa Dody.
Tarmizi menerima uang senilai Rp425 juta dan fasilitas penginapan serta transportasi senilai Rp9,5 juta agar dapat menjadi penghubung dan memberikan akses kepada pihak yang berperkara agar majelis hakim menolak gugatan yang diajukan Eastern Jason Fabrication Services (EJFS) Pte Ltd dan mengabulkan gugatan rekonpensi serta mengabulkan sita jaminan jaminan PT Aqua Marine Divindo Inspection (AMDI) selaku pihak tergugat/pihak penggugat rekonpensi.
PT EFJS menggugat PT AMDI untuk membayar ganti rugi akibat wanprestasi sebesar 7.603.198,45 dolar AS dan 131.070,50 dolar Singapura. PT AMDI lalu mengajukan gugatan balik (rekonpensi) kepada PT EJFS sebesar 4.995.011,57 dolar AS.
Terhadap gugatan tersebut, Direktur Utama PT AMDI Yunus Nafik menunjuk Akhmad Zaini sebagai kuasa hukum.
Setelah beberapa kali sidang, Zaini menemui Tarmizi dan minta tolong kepada Tarmizi untuk menyampaikan kepada ketua majelis hakim yaitu Djoko Indiarto supaya perkara gugatan wanprestasi dibantu. Lalu Tarmizi mengatakan akan disampaikan kepada majelis hakim.

    Pada 20 Juni 2017, Zaini mentransfer uang sejumlah Rp25 juta kepada Tarmizi melalui rekening “office boy” PN Jaksel Tedy Junaedi. Tarmizi lalu meminta Tedy untuk membayar keperluan Tarmizi.
Pada 16 Juli 2017, Zaini memesankan kamar untuk menginap bagi rombongan keluarga Tarmizi dan teman-temannya di hotel Garden Palace Surabaya dan memberikan fasilitas lain berupa hotel/vila di kota Batu, Jatim senilai Rp4,5 juta dan fasilitas mobil selama 3-4 hari kepada Tarmizi senilai Rp5 juta yang dibayar PT AMDI.
Zaini di hotel Garden Palace itu meminta Tarmizi agar mengabulkan 3 paket permohonan PT AMDI yaitu gugatan PT EJFS ditolak, gugat rekonpensi PT AMDI diterima dan sita jaminan PT AMDI diterima.
Permintaan itu disanggupi Tarmizi dengan meminta imbalan Rp750 juta. Permintaan Tarmizi itu disampaikan oleh Zaini ke pemilik PT AMDI Yunus Nafik, namun yang disetujui hanya Rp350 juta.
Sehingga terjadi tawar-menawar antara Zaini dan Tarmizi dan disetujui uang Rp400 juta untuk kompensasi memenangkan PT AMDI.
Yunus lalu memberikan uang Rp250 juta dalam bentuk cek Bank BNI atas nama PT AMDI pada 16 Agustus di rumahnya di Sidoarjo kepada Zaini, sisanya diberikan pada 19 Agustus 2017 senilai Rp100 juta juga melalui cek.
Zaini pada 16 Agustus 2017 mentransfer uang sebesar Rp100 juta ke Tedy Junaedi dan Zaini juga menemui Tarmizi lalu menyerahkan cek senilai Rp250 juta. Namun, karena jumlah masih kurang dari nilai yang disepakati maka Tarmizi mengatakan putusan perkara masih akan ditunda hingga janji dipenuhi PT AMDI.
Selanjutnya pada 21 Agustus 2017, Tarmizi menyerahkan cek Rp250 juta kepada Tedy untuk dicairkan tapi teller bank menolak karena stempel PT AMDI tidak jelas sehingga tidak memenuhi syarat. Tarmizi pun mengembalikan cek itu ke Zaini.
Zaini lalu mencairkan kedua cek yang diterimanya di bank BNI dan setelah dicairkan, Zaini pergi ke kantor BCA untuk mentransfer uang sebesar Rp300 juta ke rekening atas nama Tedy Junaedi. Zaini selanjutnya menemui Tarmizi di PN Jaksel dan tidak berapa lama kemudian keduanya ditangkap petugas KPK.
Atas tuntutan itu, Tarmizi akan mengajukan nota pembelaan (pledoi) pada 5 Maret 2018.(anjas)

Leave a Reply