Para Mantan Kombatan GAM Suarakan Aspirasi Dukung Jokowi-Maruf Amin

Bireun, jurnalsumatra.com – Para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyuarakan aspirasi dukungannya untuk Cares-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin, pada pemilu presiden 2019.
Hadir ada acara silaturrahmi tersebut, dari TKN Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin antara lain, KH Lukmanul Hakim, Habib Sholeh Al Muhdar, Habib Ali Assegaf, H Zainal Arifin, dan Zuhairi Misrawi.
Hadir juga mantan Panglima Sayap Militer GAM yang juga Pembina Komunitas Aceh Jokowi-Amin Kuat (Kajak), Sofyan Dawood, serta puluhan mantan kombatan GAM di Pidie.
Salah seorang mantan kombatan GAM, Safrizal Sahril, mengatakan, para mantan kombatan saat ini tidak lagi buta. Mereka bisa membaca dan menulis, sehingga tidak lagi bisa dibodohi oleh informasi hoaks dan fitnah yang disebar terhadap Jokowi-Ma’ruf Amin.
“Kami bisa memilih dengan murni. Kami memilih Pak Jokowi dan Pak Kiai Ma’ruf Amin. Kami meyakini Pak Jokowi dan Pak Kiai Ma’ruf yang akan menang,” kata Safrizal.
Dia menambahkan, para mantan kombatan GAM berharap pemerintahan Jokowi, dapat membina mereka. “Tolong bina kami. Kami siap mendukung dan membantu Pak Jokowi,” katanya.
Menurut Syahrizal, mereka mengetahui Jokowi adalah orang baik dan tulus. “Dari ekspresi wajahnya, kami bisa melihat, Pak Jokowi orangnya baik dan tulus. Pak Jokowi adalah pemimpin rakyat yang berasal dari rakyat,” katanya.
Mantan kombatan GAM lainnya, Munawwar, mengatakan, Presiden Jokowi sudah memberi bukti bukan lagi janji. Langkah-langkah perbaikan sudah dilakukan. 
Para mantan kombatan GAM, kata dia, memahami bahwa Indonesia adalah negara besar, sehingga tidak mungkin dalam waktu lima tahun pemerintahan Pak Jokowi bisa menyelesaikan semua masalah. Karena itu, Pak Jokowi harus kembali memimpin di periode kedua agar bisa menuntaskan perbaikan negeri.
“Saya ini santri. Kami akan mengikuti guru kami dan agama kami dengan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin,” kata  Munawwar.
Sementara itu, Tim KH Ma’ruf Amin, KH Lukmanul Hakim, pada kesempatan tersebut, meminta masyarakat Aceh agar  tak terpengaruh informasi hoaks dan fitnah yang disebar di media sosial dan masyarakat.
Fitnah pertama kali, kata dia, Jokowi disebut sebagai PKI. Padahal, Jokowi lahir tahun 1961, sementara peristiwa PKI terjadi pada 1965. Sehingga jelas sekali bahwa hal itu adalah fitnah, karena pada 1965, Jokowi baru berusia empat tahun. “Jelas ini adalah fitnah,” katanya.
Lukmanul Hakim menegaskan, Aceh pernah porak poranda karena fitnah. “Jangan sampai porak poranda ini menyebar ke seluruh Indonesia karena fitnah. Kami yakin orang Aceh akan mencegah kerusakan karena fitnah,” katanya.(anjas)

Leave a Reply