Pasar Tradisional Super Unik di Papringan Temanggung

jurnalsumatra,yogyakarta,temanggung
Pasar Tradisional Super Unik di Papringan Temanggung

TEMANGGUNG, Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Indonesia itu memang unik. Hal sederhana bisa jadi tempat yang keren sekaligus jadi tempat wisata.

Dan, Komunitas Mata Air sudah lama membuka lokasi perdagangan dengan konsep tradisional yang cukup unik: pasar Papringan. Terletak di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Wah, gokil juga nih pasar. Saking lengkapnya, sampai tukang cukur juga ada. Maka, ramai sekali pasar ini. Mereka bisa mencari apa saja. Pokoknya keren nih pasar tradisional, yang lain dari biasanya.

Unsur alam juga dimunculkan dan barang yang dijual juga mengandung unsur tradisional. Sungguh unik bagi pembeli dan menyenangkan bagi yang jualan.

Kita tidak menyangka di zaman kekinian masih ada pasar tradisional yang super unik: di kebun bambu kita shopping dulu. Terasa ada sesuatu yang beda, sangat menarik dan mengasyikkan.

Menuju pasar itu, zaman old yang kekinian, dari arah Temanggung, Magelang, Semarang via Secang atau Yogyakarta, dari pertigaan Maron jalan lurus ke barat arah Parakan sejauh 3.9 km. Sampai di perempatan lampu merah Kedu, belok kanan.

jurnalsumatra,yogyakarta,temanggung
Pasar Tradisional Super Unik di Papringan Temanggung

Kalau dari arah Parakan atau Wonosobo sampai perempatan atau lampu merah Kedu, belok kiri. Setelah belok jalan lurus ke utara sejauh 2.8 km sampai balai desa Ngadimulyo. Ikuti jalan di seberang balai desa sejauh 1.6 km.

Papringan ini merupakan julukan orang Jawa untuk kebun bambu. Dulu, papringan sangat lekat dengan kegiatan masyarakat: bermain, bekerja atau melakukan aktivitas lainnya.

Akan tetapi, berubahnya gaya hidup masyarakat desa, membuat papringan mulai ditinggalkan sebagai ruang beraktivitas bersama. Bahkan, mulai dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah.

Konsep membuat sebuah pasar di bawah rimbunan vegetasi tanaman bambu ini, sebenarnya terinspirasi pasar papringan di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan.

Pasar yang berada di atas lahan bambu seluas 2.500 meter persegi, hanya dibuka setiap Minggu Wage dan Minggu Pon saja, mulai pukul 06.00-12.00 WIB.

jurnalsumatra,yogyakarta,temanggung
Pasar Tradisional Super Unik di Papringan Temanggung

Dengan melalui pendekatan yang kreatif, pasar ini mengangkat segala kearifan lokal masyarakat. “Sekaligus merangsang pertumbuhan ekonomi warga setempat,” jelas Imam Abdul Rofik, Ketua Komunitas Mata Air, Selasa (4/9/2018), yang menambahkan pihaknya bergerak untuk menghidupkan kembali papringan yang telah dilupakan menjadi ruang baru bagi masyarakat dalam wujud pasar desa.

Bermula dari rasa kepedulian, akhirnya tempat itu disulap jadi pasar Papringan dengan 42 lapak dagangan kuliner khas, hasil pertanian hingga kerajinan produksi lokal.

Uniknya, pengunjung dan pedagang diwajibkan bertransaksi menggunakan kepingan uang berbentuk persegi panjang terbuat dari bambu, yang dapat ditukarkan di berbagai titik di komplek pasar Papringan.

Pasar ini bukan pasar biasa. Sesuai dengan namanya, pasar ini digelar di bawah rerimbunan papringan (pepohonan bambu).

Menawarkan beragam olahan kuliner dan hasil tani yang disediakan juga beberapa fasilitas pendukung.

Di sini ada yang jual nasi jagung, mangut, jamu, dawet khas Ngadiprono, jajanan pasar. Paling khas: makanan bernama Nglemeng berupa campuran ubi dan gula merah yang dimasukkan ke dalam batang bambu dan dimasak dengan cara dibakar.

Dan semua itu untuk memperkenalkan kekayaan produk lokal masyarakat Ngadiprono. Menariknya, pasar ini merupakan kawasan bebas asap rokok. Tidak mengurangi kenyamanan pengunjung lain yang tidak merokok, pengunjung perokok disediakan kawasan “smoking area”.

Dibukanya pasar ini, cukup berpengaruh bagi pendapatan dan perekonomian warga. “Lumayan untuk tambahan pendapatan bagi keluarga,” ungkap Noimah, yang sehari-harinya beternak kambing bisa kumpulkan 110 keping koin bambu.

Menggunakan kepring — keping uang pring dan alat pembayaran di pasar Papringan — pengunjung bisa menikmati kuliner di daerah ini.

Kepring terbuat dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa menjadi alat pembayaran. Satu kepring bernilai Rp 2 ribu. Dengan kepring pengunjung bisa membeli beragam olahan kuliner tradisional yang jarang kita temukan di tempat lain.

Kuliner yang dijajakan: nasi jagung, lontong mangut, dawet anget, soto lesah, pecel, gudeg, glemeng, ndas borok, grontol jagung dan beragam aneka jajan pasar. Adapun minuman khasnya wedang tape, kopi tubruk, wedang ronde, wedang pring, dll.

Dan yang pasti, semua makanan yang dijual itu merupakan makanan sehat. Karena, makanan di pasar Papringan diharuskan berbahan alami dan tidak boleh menggunakan bahan pewarna, bahan kimia, atau penyedap rasa (micin). Makanya, bahan makanan semuanya adalah hasil tani yang masih dalam keadaan segar.

Di pasar ini tidak hanya menjual kuliner siap santap, juga menyediakan aneka hasil tani yang belum diolah: ubi, pisang, cabai, petai, aneka sayuran dan hasil kebun lainnya. Semuanya dijual dalam kondisi masih segar.

Beberapa jenis hewan ternak juga bisa kita dapatkan: kelinci dan marmut. Selain itu, mainan tradisional yang sudah sangat jarang kita temukan bisa kita miliki dengan harga sangat murah. Menjadi media nostalgia buat orang tua dan mengenalkan mainan tradisional masa lampau bagi anak-anak kekinian zaman now di era dolanan gadget.

Pengunjung asal Palembang, Sumsel, Abas Sani bersama istrinya Ny Marini Yuniar, mengaku sangat takjub dengan konsep pasar Papringan. Pasalnya, ia belum pernah melihat pemandangan serupa di kampungnya.

Abas pun berharap, inspirasi seperti itu dapat terus dikembangkan di daerah lain. “Semoga masyarakat mampu menggerakkan perekonomian berbasis kerakyatan,” kata Abas, yang menambahkan daerah itu luar biasa dan patut menjadi contoh yang lain.

Sejatinya, bambu memiliki nilai estetis tinggi sekaligus beragam manfaat: penghasil oksigen, menyuburkan tanah, bahan material bangunan di masa mendatang mengingat teksturnya yang kuat hingga mengandung keterikatan psikis yang kuat dengan masyarakat desa.

Bambu di Indonesia sangat istimewa karena tumbuh berumpun dan memberikan celah ruang untuk beraktifitas. Ke depan, kebun bambu kembali dicintai masyarakat untuk menghidupkan nilai sosial sekaligus memberikan nilai ekonomis tinggi.

Pasar Papringan memberikan berkah bagi pemilik lahan: mendapat retribusi pendapatan Rp 10 ribu dari masing-masing lapak yang ada.

Di pasar ini mengajarkan para pedagang untuk menyajikan makanan berkualitas dari segi harga, rass dan visual. Hingga menjadikan masyarakat kembali menggemari sesuatu yang nyaris dilupakan dan warga menjadi lebih nyaman berada di lingkungannya.

Pasar Papringan sediakan pula bilik ibu menyusui dan fasilitas perpustakaan bernuansa alam terbuka. Ada pula fasilitas mainan pasar Papringan. Wahana dolanan anak bahagia bagi orang dewasa: egrang, bakiak, ayunan bambu dan lainnya di area play ground. Tak kalah menariknya, ada sepeda bambu pasar Papringan yang unik dengan frame bambu.

Harga tiket masuk ini free alias gratis, hanya dikenai tiket parkir jika membawa kendaraan. Jadi, buat Anda traveler, akhir pekan libur panjang mesti diagendakan untuk datang ke pasar Papringan. Nikmati jajanan pasar tradisional sehat di bawah rerimbunan papringan dengan hawanya yang sejuk agar betah berlama-lama. Itu pasti akan menjadi pengalaman yang menarik di pasar yang keren dan mainannya juga antimainstream. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 15 =