Pasca Kemarau Warga Cari Air Bersih ke Hutan

Muba, jurnalsumatra.com – Pasca dilanda musim  kemarau masyarakat dibeberapa kecamatan dalam Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), seperti masyarakat Kecamatan Plakat Tinggi, Jirak Jaya, Sungai Keruh termasuk masyarakat Kecamatan Sekayu, terpaksa menggunakan kendaraan roda dua maupun berjalan kaki keluar masuk hutan dengan jarak tempu 1-2 kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih.

Tidak hanya itu, ditengah-tengah anjloknya harga karet masyarakat juga harus meraih kocek untuk membeli air bersih seharga Rp 50.000 per Tedmon demi kebutuhan sehari-hari. Dikarenakan sumber air bersih dibeberapa kecamatan tersebut banyak yang mengalami kekeringan akibat dilanda musim kemarau.

Salah satu contoh, warga desa Rimba Ukur (C5) Kecamatan Sekayu. Sejak bulan Agustus warga desa tersebut sudah memanfaatkan air sungai kecil yang ada didalam hutan untuk mandi dan mencuci pakaian


“Sejak bulan Agustus pak, kami sudah mencari air ke dalam hutan untuk mandi dan mencuci pakaian. Selain itu kami juga terpaksa mengeluarkan biaya untuk membeli air bersih, seharga Rp 50.000,- dalam satu tedmon. Karena selain tidak ada hujan dan mata air terdekat sudah kering, desa kami memang belum dibangun  PDAM.” Kata Regen (34) saat dibincangi wartawan Jurnal Sumatra.com dilokasi pemandian, Minggu (13/10/2019). 

Sementara kepala desa Rimba Ukur Hardi berharap agar Pemkab Muba mensuplai air bersih secara gratis kedesanya.

“Dalam satu tedmon air bersih yang dibeli seharga Rp 50.000,- per tedmon itu, saya lihat paling bertahan satu minggu, itu kalau digunakan untuk masak dan minum. Tapi kalau juga digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian paling lama tiga hari, ini mau tidak mau dibeli.

Jadi penting bagi warga saat ini apalagi warga yang menggantungkan diri dari hasil nyadap karet, mana getah karet berkurang harganya pun saat ini anjlok. Menyikapi hal ini, hendaknya Pemkab Muba dapat membatu air bersih secara  gratis untuk meringankan beban warga.”Harap dia.

Dijelaskannya bahwa Pamsimas yang ada didesa Rimba Ukur kapisitasnya terbatas hanya 18 meter kubik air bersih atau hanya dapat menampung sekitar 20 rumah.

“Untuk saat ini kita sudah mengajuhkan, maka untuk program Pamsimas  APBN ditahun 2020 desa Rimba Ukur dapat satu sumur bor. 

Namun berdasarakan hasil musren pemerintah desa akan menganggarkan setiap dusun satu sumur bor menggunakan Dana Desa (DD). Ini berdasarkan skala prioritas dan dapat dipastikan sesuai dana yang ada.” Ujarnya. (Rafik elyas)