PDIP: Banteng Soekarnois “Pulang Kandang” Elektabilitas Naik

Jakarta, jurnalsumatra.com – Koordinator Gugus Tugas Badan Pemenangan Pemilu DPP PDI Perjuangan Deddy Yevri Sitorus menilai elektabilitas partainya naik lantaran Banteng Nasionalis-Soekarnois kembaliberlabuh di kandang banteng.
Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu, Deddy  mengatakan bahwa hal itu menunjukkan posisi PDI Perjuangan sangat kuat sebagai satu-satunya partai pewaris pemikiran Bung Karno.
Menurut dia, persepsi ini merata di seluruh Indonesia dan menjadi magnet yang menyedot Banteng Nasionalis-Soekarnois berlabuh kembali di kandang banteng.
Dalam pemilu-pemilu sebelumnya, pada era reformasi, masih diikuti begitu banyak partai Soekarnois, seperti PDP, PNI Marhaenisme, PNBK, dan Partai Pelopor. Namun, pada Pemilu 2019 tinggal terkonsolidasi satu kekuatan Banteng-Soekarnois, yakni PDI Perjuangan.
Dengan demikian, tingginya elektabilitas partai ini merupakan perpaduan kolektif kerja kader partai, efek rembesan elektoral Jokowi, dan kepeloporan partai melalui sekolah partaim dan penegakan sanksi tegas berupa pemecatan bagi para koruptor.
Deddy dalam pemaparan acara Rakerda DPD PDI Perjuangan Bali, Minggu, menegaskan bahwa survei itu menunjukkan bahwa posisi PDI Perjuangan masih tetap teratas dengan elektabilitas di kisaran 24,6 persen diikuti oleh Partai Gerindra dan Partai Golkar.
Menurut Caleg DPR RI nomor urut 1 dari Daerah Pemilihan Kalimantan Utara ini, temuan lain yang cukup signifikan adalah migrasi pemilih dan “coat-tail effect” dari capres terhadap partai-partai.
Survei menunjukkan bahwa Gerindra mendapatkan keuntungan terbesar dari “coat-tail effect” itu, sementara partai-partai koalisinya sama sekali tidak mendapatkan dampak yang signifikan dari efek capres.
Bahkan, lanjut Deddy, terlihat bahwa Gerindra mampu menggerogoti Demokrat dan menarik dukungan dari Golkar mengingat kentalnya Prabowo dengan Orde Baru.
Persepsi Positif
Sementara itu, di kubu koalisi Joko Widodo/Ma’ruf, PDI Perjuangan, kata dia, paling mendapatkan persepsi positif dari Jokowi mengingat kepemimpinan Jokowi sejak Wali Kota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta, dan kini Presiden Indonesia teridentifikasi dengan PDI Perjuangan.
Akan tetapi, PDI Perjuangan tidak menggerus suara partai-partai dalam koalisi sebagaimana terjadi di koalisi pendukung Capres Prabowo.
PDI Perjuangan menurut hasil survei lebih diuntungkan oleh merapatnya kembali pemilih Soekarno dan tambahan dukungan dari kelompok pemilih pemula atau yang sering disebut dengan kaum milenial dengan angka sekitar 34,8 persen, katanya.

Hal lain yang menjadi temuan survei internal tersebut adalah migrasi pemilih PKS ke PAN dan tidak signifikannya partai-partai Cendana dalam merebut kursi karena kalah efektif dengan Gerindra yang dinilai hadir sebagai neo-Orde Baru.
Dalam presentasi pemenangan pemilu di Rakorda DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali tersebut, Deddy juga menegaskan bahwa elektabilitas pasangan Jokowi/Ma’ruf makin jauh meninggalkan pasangan Prabowo/Sandi.
Survei yang diselenggarakan pascaheboh kasus hoaks Ratna Sarumpaet tersebut, kata Deddy, ternyata juga menyumbang sulitnya elektabilitas koalisi Gerindra untuk mengejar ketertinggalan.
“Masyarakat juga mulai jenuh dengan metode kampanye negatif yang dilancarkan oleh kubu Prabowo/Sandi,” tuturnya.
Menurut survei, tambah Deddy, tidak terlihat peningkatan dukungan kelompok pemilih baru pada koalisi Prabowo/Sandi. Sebaliknya, hal itu membuat para pemilih milenial berpaling mendukung Jokowi/Ma’ruf meskipun lebih berpotensi memperbesar suara golput.
Oleh karena itu, Deddy berpesan agar jajaran partai dan caleg PDI Perjuangan di Provinsi Bali untuk terus disiplin dengan “positive campaign” dan menjelaskan lebih detail tentang Nawacita 2 yang lebih fokus pada pengembangan sumber daya manusia serta isu-isu kesejahteraan setelah Jokowi berhasil membangun sektor infrsatruktur secara masif selama 4 tahun terakhir.
Begitu pula, menurut pria yang juga menjabat Deputi Direktur TKN Jokowi/Ma’ruf dan Kepala Kantor Rumah Aspirasi Rakyat #01 ini, upaya meluruskan informasi sesat yang sepertinya terus-menerus diproduksi oleh pihak-pihak tertentu.
“Klaim-klaim palsu itu harus disikapi dengan menyampaikan informasi yang benar, langsung kepada rakyat, dari pintu ke pintu,” ujarnya.
Terrkait dengan hasil survei Partai Demokrat dan Golkar yang suaranya digerus Partai Gerindra, Deddy menjawab bahwa dari variabel-variabel yang muncul memang ada kaitan kuat bahwa ketika Gerindra naik, Demokrat dan Golkar menurun.
“Sebaliknya, kalau suara Gerindra turun, Golkar dan Demokrat yang naik. Jadi, dalam konteks ceruk suara yang diperebutkan, memang basisnya sama. Maka, kalau Golkar dan Demokrat mau naik, kuncinya adalah bagaimana menurunkan elektabilitas Gerindra,” ucap Deddy Sitorus.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − twelve =