Pedagang Ayam Di Garut Berhenti Berjualan

    Bandung, jurnalsumatra.com – Sejumlah pedagang ayam broiler di Pasar Induk Guntur, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menggelar aksi berhenti berjualan, Selasa, sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga dan sulitnya pasokan daging ayam yang membuat pedagang rugi.
Kawasan kios penjual daging di Pasar Guntur yang biasanya ramai kini tampak sepi, hanya ada satu kios yang menjual ayam sisa stok beberapa hari sebelumnya.
“Kalau ayam yang saya jual sekarang adalah stok beberapa hari yang lalu,” kata Itang Yunas pedagang daging ayam di Pasar Guntur.
Ia mengatakan, aksi mogok pedagang daging ayam sudah berlangsung sejak Senin (15/1) sebagai bentuk protes susahnya mendapatkan pasokan ayam pedaging.
Pedagang, kata dia, mengeluhkan langkanya pasokan, dan mahalnya harga jual daging ayam yang mencapai Rp40 ribu dari harga normal Rp28 ribu per kilogram.
“Sekarang susah mendapatkan stok baru, tidak ada barangnya,” kata Itang.

    Ia mengungkapkan, kenaikan harga ayam di pasar disebabkan belum waktunya musim panen di daerah pemasok daging ayam.
“Katanya memang tidak ada ayam yang siap jual di peternaknya, kalau ada juga harganya mahal,” katanya.
Petugas Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Induk Guntur, Yayat Supriatna mengatakan, pedagang daging ayam semuanya berjumlah 100 pedagang atau kios.
Sebagian besar, kata dia, berhenti berjualan sejak Senin (15/1) karena tidak adanya pasokan, kalau pun ada harganya mahal sehingga sulit untuk dijual ke konsumen.
“Mereka melakukan aksi mogok berjualan karena harga daging mahal, dan berharap dengan mogok berjualan daging ayam kembali normal,” katanya.(anjas)

Leave a Reply