Pedagang Sayur Di Bali Curi Perhiasan Pelanggan

     Negara, Bali, jurnalsumatra.com – Seorang pedagang sayur keliling di Kabupaten Jembrana, Bali berinisial PEP (41) mencuri perhiasan serta uang di rumah pelanggannya, dengan dalih untuk membayar kamar kontrakan.
“Pelaku berasal dari Pulau Sumatera, ia bersama keluarganya menyewa kamar kos di Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan. Antara pelaku dan korban sudah mengenal baik, karena berlangganan sayur,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jembrana Ajun Komisaris Yusak Agustinus Sooai, di Negara, Selasa.
Ia mengatakan, dari rumah Ni Ketut Kartini, pelaku mencuri uang Rp5 juta, perhiasan cincin, gelang dan anting-anting emas seberat 17 gram, uang logam kuno serta satu unit handphone, sehingga korban mengalami total kerugian Rp14 juta.
Menurutnya, pelaku masuk ke rumah pelanggannya itu saat korban sedang sembahyang di belakang rumah dengan pintu tidak terkunci.
“Karena merasa sudah berlangganan, korban tidak curiga kepada pelaku, sehingga saat pelaku datang membawa sayur ia tinggal dulu sembahyang sebelum belanja,” katanya pula.
Kartini baru tahu perhiasan, uang serta handphonenya hilang Senin (9/11) malam, dan segera melapor ke Polsek Pekutatan.
Setelah tertangkap, dari PEP didapatkan sisa barang bukti beberapa perhiasan yang ia sembunyikan dengan dibungkus kantong plastik dan ditanam di pekarangan tempat indekosnya.
Pedagang sayur keliling itu mengaku, terpaksa mencuri di rumah pelanggannya, karena harus segera membayar biaya kamar indekos senilai Rp3,5 juta untuk satu tahun.
Ia mengatakan, dirinya sudah sekitar satu tahun tinggal di Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan bersama istri dan satu orang anaknya, dengan sehari-hari berjualan sayur keliling.
“Saya lahir dan besar di Kabupaten Lampung Timur. Tapi orang tua saya berasal dari Bali yang bertransmigrasi saat Gunung Agung meletus tahun 1963,” katanya pula.
Menurutnya, sebelum ke Kabupaten Jembrana, ia pernah beberapa bulan tinggal dan bekerja di Denpasar, namun tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup di kota tersebut.
Selama ia merantau ke Bali, tiga orang anaknya yang lain dititipkan kepada orang tuanya di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung di Pulau Sumatera.
Dalam KTP dan SIM yang juga disita polisi, tercatat PEP lahir dan beralamat di Desa Braja Harjosari, Kabupaten Lampung Timur.
Ia mengaku, uang Rp5 juta yang ia curi sebagian sudah digunakan untuk membayar kamar indekos selama satu tahun, sementara sebagian perhiasan ia jual di Denpasar.(anjas)

Leave a Reply