Pelatihan Kopi Biji Salak Mahasiswa KKN UMY

SLEMAN, Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Banyak manfaat yang didapatkan dari buah salak, termasuk biji salak. Bagi kebanyakan orang, biji salak dianggap sebagai limbah. Namun, tidak selamanya limbah tidak memiliki manfaat sama sekali.

Hal itu yang menginspirasi Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 12 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan pembuatan kopi biji salak bagi warga Padukuhan Potro, Purwobinangun, Pakem, Sleman.

Kelompok terdiri dari 10 orang dan 1 orang Dosen Pembimbing Lapang (DPL) ini, melihat begitu banyak limbah biji salak di Padukuhan Proto. Dan belum ada yang tergerak untuk memanfaatkannya. Mungkin, warga belum paham untuk proses pengolahannya. Dan, biji salah bisa diolah menjadi serbuk minuman.

“Warga Potro selama ini hanya menjadi petani salak dan belum banyak yang melakukan pengembangan pengolahan salak,” jelas Muhammad Anshori, Ketua KKN 12 UMY, Senin (5/2/2018).

Mengundang Sri Sujarwati, pengembang industri kreatif olahan salak, masyarakat banyak yang ingin tahu soal olahan biji salak.

Menurut Sri Sujarwati, buah salak memiliki nilai jual lebih tinggi. Dengan catatan, petani salak bisa berinovasi untuk menciptakan produk olahan salak seperti: keripik, dodol, manisan, atau kopi. “Kalau sudah dalam bentuk inovasi produk seperti itu biasanya harga jualnya bisa lebih tinggi dari nilai jual tengkulak,” papar Sri Sujarwati.

Proses pembuatan kopi bubuk kenthos (biji salak) membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebab, ada beberapa tahapan yang harus dilalui: pencucian, pengeringan, sangrai hingga penumbukan.

Biji salak harus dicuci sampai bersih, kemudian dikeringkan hingga benar-benar kering. Proses pengeringan menggunakan sinar matahari. Menurut pengalaman Sri Sujarwati, untuk benar-benar kering, waktu yang dibutuhkan 30 hari.

Biji salak yang sudah kering, lalu disangrai sampai hitam dan mengeluarkan bau khas kopi biji salak. Proses sangrai ini membutuhkan waktu 15 hingga 30 menit. Selanjutnya, biji salak ditumbuk hingga halus. Atau bisa menggunakan blender agar halusnya lebih merata.

Dalam penyuluhan dan pelatihan yang diikuti ibu-ibu PKK Padukuhan Potro ini, tidak hanya melihat cara pembuatan kopi biji salak. Sri Sujarwati juga mengaja ikut serta dalam proses pembuatannya bersama kelompok KKN 12 UMY. Bahkan, hingga akhir pelatihan, mereka juga tidak ragu mencicipi hasil olahan biji salak yang mereka buat.

Dalam proses pengolahan itu menghasilkan 4 kg bubuk kopi kenthos dari 20 kg biji salak. Harga kopi kenthos yang dihasilkan Kelompok KKN 12 UMY dipatok dengan harga Rp 25.000,- tiap 100 gram.

Anshori beserta kelompok KKN 12 UMY berharap, warga termotivasi untuk terus mengembangkan secara nyata produk olahan salak hingga tahap pemasaran. Secara berkelanjutan, tentunya tidak hanya menjadi petani salak. “Namun sekaligus pengusaha produk olahan salak,” papar Muhammad Anshori. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − four =