Pelita: Pengamalan Pancasila kalangan milenial belum memadai

Jayapura, jurnalsumatra.com –  Perkumpulan Lintas MahasIswa Kristen dan Alumni (Pelita) Papua, Yohana H. Diawaitou menilai dalam kehidupan masyarakat dan kaum milenial hingga kini masih kurang mengamalkan dan menyuarakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

  “Kalau dilihat dari nilai-nilai Pancasila di kalangan milenial, sebenarnya harus lebih disuarakan lagi. Bukan hanya kalangan muda, tetapi sebagai warga negara yang baik harus menyuarakan nilai-nilai Pancasila,” kata Sekretaris Pelita Papua, Yohana H. Diawaitou di Jayapura, Selasa.

  Menurut dia, tidak semua kalangan milenial menyuarakan nilai-nilai pancasila, karena kalau dilihat dari perbandingan diusia muda,kurang mendapat pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila.

  “Mereka hanya sekedar belajar Pancasila dan menghapal sila-silanya saja. Tetapi penerapan dan kemauan menyuarakannya tidak ada sama sekali,” ucapnya.

  Pemahaman kaum milenial tentang nilai-nilai Pancasila kurang, karena di sekolah hanya tulis semata tetapi pengamalan terhadap Pancasila itu sendiri tidak ada, ujarnya.

  “Jadi, pengamalan Pancasila di kalangan pemuda kurang. Mungkin sekitar dua persen saja yang yang menyuarakan,” ujarnya.

  Yohana mencotohkan pengamalan nilai Pancasila yang pertama berdoa, dari sekian keluarga paling hanya beberapa keluarga saja yang bangun bagi berdoa, ini bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila.

  “Ternyata yang berdoa sedikit, karena pemahaman tentang pengamalan Pancasila itu kurang. Dikalangan anak-anak sekolah pun kurang. Kalau ke sekolah baru ditanyakan pagi hari diajarkan berdoa, sopan-santun, tetapi belum tentu anak sekolah itu melakukannya di rumah,” ujarnya.

  Kalangan milienial tidak santun, kata dia, ini menyuarakan pengamalan nilai-nilai pancasila, rasa menghargai orang lain sudah tidak ada, nilai suku isme terlalu tinggi.

  Semisal, menurut dia, ada orang baru yang baru pindah dan masuk ke rumahnya, sebagai warga negara yang baik harus memberi sapaan, kemudian bertetangga harus hidup rukun.

  “Tetapi yang terjadi adalah kalau ada orang baru datang ke kompleks kita, tidak sopan terhadap orang mau dibilang bahasa kasarnya so jagoanlah,” ujarnya.

  Sama sekali pengamalan dari nilai-nilai pancasila itu kurang. Jangankan menyuarakan pancasila, pengamalannya tidak ada. Masih ada ego-ego pribadi.

  “Ada orang yang berpendapat kalau saya hidup dengan baik kenapa ada orang yang mau sibuk dengan saya. Jadi, bagi kalangan pemuda/milenial pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila yang kurang,” katanya.

  Ia menyebutkan, biasanya pengamalan Pancasila itu ada pada iven-iven besar seperti peringatan 17 Agustus, itu akan terlihat kaum milenial terlibat dalam perlombaan, tetapi itu dijalankan di rumah atau tidak, itu berarti pengamalan tentang nilai-nilai Pancasila di kalangan pemuda sangat kurang.

  Menurut dia, perlu ada pembelajaran-pembelajaran secara baik, baik di sekolah, non formal maupun formal. Penerapannya bisa dilakukan melalui hal-hal yang mudah, misalnya buang sampah pada tempatnya, taat pada aturan lalulintas, itu sebenarnya hal yang sepeleh tetapi dalam pancasila, terlihat memiliki nilai yang sangat tinggi dan itu jarang sekali dilakukan. Bahkan, kata dia, sopan santun juga sudah tidak ada.

  “Jadi, bagimana kita mau menyuarakan pancasila, sedangkan mengamalkan saja belum dilakukan secara baik. Kalau itu dilakukan secara rutin pasti baik, hanya dilakukan sekali saja, seperti pada iven-iven tertentu saja,” ujarnya.

  “Ini persoalan serius yang perlu diselesaikan, Indonesia sudah lama meredeka dan pancasila sudah lama ada tetapi karakter anak bangsa belum berubah berarti sangat susah, mau menjadikan warga Indonesia yang sangat baik itu hal yang cukup susah,” katanya.

  Ia menambahkan, yang perlu dilakukan adalah sebagai warga negara yang baik harus memulai dari diri sendiri, mengamalkan nilai-nilai Pancasila tidak susah dimulai dalam kehidupan sehari-hari akan membantu untuk menggelorakan Pancasila.(anjas)