Pemanfaatan Dunia Digital Belum Optimal

YOGYAKARTA, jurnalsumatra.com – Kini kita memasuki zaman revolusi industri ke-4 atau industry 4.0. Dan revolusi industri ke empat ini, ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Ketika menyampaikan paparan menghadapi revolusi industri 4.0, Dr H Sukamta, anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menyinggung data penggunaan internet di Indonesia.

Bagi Sukamta, revolusi digital digital dimulai akhir 1950-an dan 1970-an. “Ini adalah perkembangan teknologi dari mekanis dan analog ke digital,” tandas Sukamta dalam forum diskusi publik Kominfo RI di Hotel Pandanaran, Jl Prawirotaman, Yogyakarta, Kamis (10/10/2018), yang dibuka Drs Solamatta Sembiring, MSi, Direktur Tata Kelola dan Komunikasi Publik Kominfo RI.

Selama masa ini, seperti disampaikan Sukamta, komputer digital dan perekaman digital menjadi norma. Dan, pengenalan teknologi digital juga mengubah cara manusia berkomunikasi. Sekarang melalui komputer, ponsel dan internet, revolusi ini membawa jalan menuju era informasi.

“Secara umum, pemanfaatan dunia digital belum optimal dan masih cenderung hanya untuk bersosialisasi,” kata Sukamta, yang menjelaskan internet penuh dengan konten negatif seperti hoax, caci-maki dan sebagainya.

Bagi Sukamta, saat ini akses internet belum merata dari Sabang hingga Merauke. “Kecepatan internet masih tergolong rendah dan kecepatan rata-rata internet Indonesia peringkat ke tujuh puluh lima di dunia, meski peringkat kecepatan internet Indonesia cukup tinggi peringkat ke empat dunia,” kata Sukamta, yang menerangkan pula peran negara dalam dunia digital.

Menurut Sukamta, program making Indonesia 4.0 meliputi perbaikan alur aliran barang dan material, membangun satu peta jalan zona industri yang komprehensif dan lintas industri.

“Selain itu mengakomodasi standar-standar keberlanjutan, memberdayakan industri kecil dan menengah, membangun infrastruktur digital nasional dan sebagainya,” papar Sukamta.

Pada kesempatan itu, Sukamta menyampaikan bahwa DPR RI telah menyusun UU No. 19/2016 tentang perubahan UU informasi dan transaksi elektronika (UU ITE). “Dan revisi undang-undang informasi dan transaksi elektronika itu lebih manusiawi,” tandas Sukamta.

Lebih lanjut dikatakan Sukamta, saat ini perlunya urgensi RUU perlindungan data. “DPR bersama pemerintah komitmen untuk membahas secara bersama RUU perlindungan data ini,” ujar Sukamta.

Dikatakan Sukamta, saat ini perlu diperkuat program pendampingan dengan pembinaan digital yang isinya berupa digital literacy dan digital inclusion.

Di akhir paparannya, Sukamta berharap perlu memahami bagaimana berinternet secara sehat dan bijak dalam menangkal hoax, menjaga diri dan lingkungan dari cyber crime dan sebagainya.

“Selain itu menggali potensi luar biasa yang dimiliki internet, mengaktualisasi kreatifitas diri, share knowledge dan meningkatkan kesejahteraan lewat internet,” kata Sukamta, yang berharap bisa menghidupkan ekonomi digital lewat start up.

Juga menciptakan produk IT berupa aplikasi-aplikasi dan software digital yang biss diekspor dan digunakan negara lain. “Jadi, tidak hanya mengekspor sumber daya alam, tapi juga ciptaan teknologi,” tandas Sukamta.

Pembicara lain, Wisnu Martha Adiputra dari Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM Yogyakarta, uraikan revolusi industri 4.0 tantangan dan peluang untuk anak muda.

Pada kesempatan itu, Wisnu menyampaikan anak muda dan komunikasi digital serta apa saja kemampuan yang mesti mereka miliki untuk menghadapi revolusi industri 4.0 itu.

Selain itu, uraikan pula ragam teknologi informasi dan komunikasi, kondisi terkini komunikasi digital, literasi digital untuk anak muda, kompetensi dalam literasi digital dan realitas dalam proses komunikasi.

Sedangkan pakar revolusi digital dari Inggris, Mr Antsham Ali — yang akrab disapa Ash Ali — sampaikan Indonesian Growing Digital Ecosystem. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *