Pemkab Diminta Menjaga Kawasan SDN Ibu Jenab

    Cianjur, jurnalsumatra.com – Sejarawan Cianjur, Jawa Barat, meminta Pemkab Cianjur, menjaga kawasan gedung SDN Ibu Jenab I sebagai tempat bersejarah berdirinya sekolah perempuan pelopor di wilayah Jawa Barat.
Sejarawan Cianjur, Pepep Johar, di Cianjur, Jumat, mengatakan, cagar budaya atau tempat bersejarah tidak harus berupa fisik atau bangunan, meskipun hanya bekas atau “patilasan”, kawasan tersebut dinilai perlu untuk dilestarikan.
“SDN Ibu Jenab I, bisa disebut patilasan Siti Jenab karena dia pertama membangun kegiatan perempuan di bidang pendidikan di lokasi itu. Salah atu sekolah perempuan pertama di Jabar, dilakukan untuk menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan,” katanya.
Siti Jenab ingin menghapuskan pandangan tersebut karena perempuan memiliki hak yang sama di bidang pendidikan karena ketika iitu, perempuan hanya identik mengurus rumah tangga. Sehingga Siti Jenab, meminta lahan pada bupati ketika itu.
“Sama halnya dengan 10 cagar budaya lainnya yang sudah kami serahkan datanya ke dinas, harus tetap dijaga dan dilestarikan. Di wilayah kota kami mencatat ada 10 cagar budaya yang masih asli seperti Gedung DKC, Rumah Dr Toki, Stasiun Cianjur dan lainnya,” kata Pepep.
Hendi Jo Jurnalis Sejarah asal Cianjur, mengatakan, pihaknya pernah bertemu dengan Pemkab Cianjur, yang berjanji akan memelihara dan melestarikan tempat bersejarah di wilayah tersebut. Sehingga pihaknya berharap pemerintah daerah membuktikan janjinya itu.
“Kalau pemerintah menepati janjinya kawasan SDN Ibu Jenab I akan tetap dipelihara. Kalau memang bukan cagar budaya, kenapa tidak dicagar budayakan. Jangan sampai dalih kepentingan, mengabaikan nilai sejarah yang ada,” katanya.

     Bahkan ungkap dia, kalau bangunan yang ada sudah tidak seperti aslinya, pemerintah dapat membuatkan monumen ataupun museum pendidikan.”Kalau yang aslinya sudah hilang, buatkan museumnya agar generasi akan datang, mengenal Siti Jenab pernah membuat sejarah untuk dunia pendidikan,” katanya.
Dia menyayangkan bukan hanya SDN Ibu Jenab yang akan digusur untuk kepentingan pemerintah, termasuk beberapa cagar budaya yang sudah beralihfungsi, sehingga generasi muda Cianjur ke depan akan kehilangan catatan dan bukti sejarah.
“Kedepan generasi muda Cianjur, hanya mendengar cerita tanpa tahu dimana lokasi yang ceritanya mereka dapatkan karena sudah berubah menjadi lahan parkir. Ini tidak hanya bangunan sekolah, banyak cagar budaya yang hilang dan beralihfungsi,” katanya.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cianjur, Cecep Sobandi, berjanji akan mengusulkan ke Bupati Cianjur, untuk mebangun monumen di bekas SDN Ibu Jenab I dan bangunan tidak akan diratakan guna lahan parkir.
“Kami akan sampaikan keinginan sejarawan dan pihak keluarga Siti Jenab, agar lokasi tidak beralihfungsi dan dibangun monumen untuk mengenang Siti Jenab. Kami juga akan melakukan hal yang sama untuk puluhan  situs dan cagar budaya lain,” katanya.
Pihaknya mencatat di Cianjur ada 55 situs budaya yang telah tercatat dan dilestarikan, saat ini pihaknya bersama dengan berbagai kalangan tengah mencari situs lainnya untuk dilestarikan.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 4 =