Pemkab Gelar Festival dan Workshop Sumarak Luhak Nan Tuo

Tanahdatar, jurnalsumatra.com  – Dalam rangka melestarikan budaya dan tradisi lokal, pemerintah daerah bekerjasama dengan Sanggar Seni Bina Musika Musik Terpadu dan didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menggelar Festival dan Workshop Sumarak Luhak Nan Tuo, diikuti sebanyak 400 murid Sekolah Dasar se-Kabupaten Tanah Datar yang bertempat di kawasan Benteng Van der Capellen, Minggu, (25/8/2019).

“Ajang ini merupakan wadah dalam melestarikan seni dan budaya yang berkembang di masyarakat serta ajang bagi generasi muda menunjukan bakat seni dan budaya mereka, untuk itu pemerintah daerah memberi apresiasi terselenggaranya kegiatan yang semarak ini,” kata Bupati Tanah Datar yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Riswandi saat memberi kata sambutan.

Ditambahkannya, Tanah Datar sebagai Luhak Nan Tuo memiliki warisan budaya Minangkabau benda (tangible) maupun tak benda (intangible) yang harus dijaga dan dilestarikan. Salah satunya dengan melestarikan nilai tradisi yang tertuang dalam kesenian, makanan tradisional dan permainan tradisional yang dilaksanakan seperti festival ini.

Riswandi tegaskan, upaya melestarikan budaya adalah upaya yang mendasar yang tidak cukup dijalankan oleh pemerintah daerah saja dengan berbagai pertunjukan reguler. Yang utama ialah tentang memberikan apresiasi dengan memberikan pemahaman dan filosofi di tempat wisata serta warisan dan tradisi yang tumbuh turun temurun di tengah masyarakat.

“Selain tahap pelestarian, juga diilakukan tahap pengembangan dan harus mampu memberikan pemanfaatan secara ekonomi bagi masyarakat setempat, mudah-mudahan generasi muda cinta kepada budaya dan tradisinya,” ujarnya.

Sementara itu, Perwakilan Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia, Wakil Direktorat Kesenian, Dede Atun Munawaroh, mengatakan, dalam upaya melestarikan dan mengembangkan budaya lokal di tengah masyarakat,  Dirjen Kemdikbud RI memberikan dana bagi organisasi atau sanggar yang didukung oleh pemerintah daerahnya.

Pada tahun ini Direktorat Kesenian telah menfasilitasi sebanyak 150 sanggar yang terbagi kedalam dua tahap melalui dana Pemerintah Fasilitasi Kegiatan Kesenian (FKK).

Dede mengharapkan melalui kerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan juga menambah bekal bagi generasi muda melalui pemahaman bahasa daerah, budaya lokal, kemudian budaya asah, asih, dan asuh.

“Saya harapkan kepada generasi muda untuk mencintai budaya sendiri, jangan mudah terpengaruh oleh budaya asing sementara budaya sendiri ditinggalkan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Dede juga memuji Pasar Van der Capellen sebagai salah satu pasar dengan konsep tempo dulu lengkap dengan pakaian pedagang tempo dulu dan jualannya yang spesifik.

“Konsepnya bagus, mempertahankan budaya dan tradisi. Namun perlu ditambahkan literasi bahasa. Tambahkan sejarahnya kepada anak-anak, misalnya kenapa harus pakaian ini, kalau ada permainannya namanya apa. Itu juga menambah kosakata mengenai konten lokal bagi anak,” sarannya.

Sebelumnya Ketua Pelaksana Yulizar mengatakan pada Festival dan Workshop Sumarak Luhak Nan Tuo Sanggar Seni Bina Musika selain menampilkan tari pasambahan dari 400 peserta siswa sekolah dasar, juga diadakan lomba paduan suara, workshop lagu-lagu nasional dan festival “mairiak” padi (merontokan padi dengan kaki) yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tanah Datar.

“Workshop lagu-lagu nasional penting karena banyak anak sekarang tidak hafal dengan lagu-nasional, sementara festival mairiak padi selain nilai kebersamaan, banyak langkah tarian yang tercipta dari mairiak itu. Peserta akan mencatat tarian apa saja,” katanya.

Turut hadir pada acara tersebut Forkopimda, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tanah Datar Abdul Hakim, Camat dan Walinagari. (Myt).