Pemkab Koordinasi Dengan Disbud Bahas Gua Braholo

     Gunung Kidul, jurnasumatra.com – Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, melakukan koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan pihak terkait untuk menindaklanjuti wacana pembuatan museum di sekitar Gua Braholo Dusun Semugih, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop.
Wakil bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi di Gunung Kidul, Selasa, mengatakan, dibangunnya museum diharapkan dapat digunakan sebagai sarana edukasi.
“Nanti akan kita lihat dulu, tetapi kami akan mendukung jika sifatnya baik untuk semua,” kata Immawan.
Dia mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan DIY, termasuk perguruan tinggi yang sudah melakukan penelitian di Gua Braholo.
“Nanti akan dikoordinasikan dengan Dinas Kebudayaan, dan perguruan tinggi yang konsern mengenai pemetaan tentang hal itu (Benda Sejarah),” katanya.
Immawan mengatakan, Dinas Kebudayaan didorong membuat rancangan mengenai apa saja yang sudah ditemukan di Gua Braholo, sehingga pemerintah pusat bisa memberikan bantuan terkait pembuatan museum.
“Sebenarnya dulu pernah ada penawaran pembuatan museum, tetapi mandeg. Saya akan cari tahu terkait hal itu,” ucapnya.
Dia mengatakan, jika nantinya pemerintah pusat menyetujui maka akan melengkapi keberadaan pariwisata edukasi yang ada. “Nanti akan melengkapi Baron Technopark yang sudah ada untuk sains, dan yang Gua Braholo untuk bidang historisnya,” tuturnya.
Sebelumnya, Kepala Seksi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY Ruly Adriadi mengatakan situs prasejarah Gua Braholo, telah masuk ke dalam situs cagar budaya melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 349/KEP/2012.
Kemudian pada 2014 lalu, Gua Braholo ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya dalam daftar Warisan Budaya Kabupaten Gunung Kidul, melalui Keputusan Kepala Disbudpar Gunung Kidul nomor 033/KPTS/WB/2014.
Untuk dalam tatanan nasional, saat ini tengah dalam proses menjadi Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional. “Gua Braholo memiliki nilai sejarah yang tinggi dan memiliki arti khusus bagi kebudayaan, ilmu pengatahuan dan pendidikan, sehingga harus dilindungi dan dilestarikan,” katanya.
Ia mengatakan, rekonstruksi kehidupan manusia pada masa lampau yang ada di sekitar Pegunungan Sewu salah satunya didasarkan pada bukti-bukti fisik artefak yang ditemukan di Gua Braholo.
Temuan ekskavasi yang tersebar secara vertikal maupun horisontal menggambarkan perkembangan proses adaptasi manusia pendukungnya terhadap lingkungannya. Proses adaptasi inilah yang kemudian menyebabkan berkembangnya sebuah kebudayaan.
“Gua Braholo mempunyai nilai penting yang cukup tinggi, yaitu merupakan salah satu lokasi yang difungsikan sebagai tempat hunian masa prasejarah dengan rentang waktu lama yang mengandung bukti sisa-sisa kehidupan masa lampau yang lengkap dan menunjukkan kompleksitas kegiatan manusia yang beragam, mulai dari industri peralatan, penguburan, dan kegiatan sehari-hari,” katanya.(anjas)

 

Leave a Reply