Pemkab : Pengembangan Sentra Kakao Dukung Pariwisata Dlingo

     Bantul, jurnalsumatra.com – Dinas Pertanian Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan pengembangan sentra budi daya kakao di Desa Terong Kecamatan Dlingo diharapkan bisa mendukung konsep pariwisata daerah itu.
“Ya salah satunya itu, untuk dukung pariwisata Dlingo, karena kan kakao termasuk bahan pangan untuk makanan olahan eksklusif,” kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Rabu.
Menurut dia, pengembangan sentra tanaman kakao di Bantul sudah dirintis sejak 2016 yang diawali dengan pelatihan-pelatihan dan pendekatan kepada kelompok tani Terong, dan pada 2017 tanaman kakao yang ditanam sudah mulai berbuah.
Ia mengatakan, budi daya tanaman kakao di Terong yang saat ini sudah seluas 1.000 hektare itu memanfaatkan lahan marginal milik pribadi masyarakat setempat, yang memang selama ini lahan tersebut tidak dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
“Jadi kakao itu merupakan bahan pangan coklat yang semua orang gemar mulai dari anak-anak sampai orang tua semua senang. Dan budi daya tanaman kakao itu bisa sebagai konservasi untuk mencegah tanah longsor,” katanya.

     Pulung mengatakan, pengembangan sentra budi daya kakao sejauh ini memang masih sebatas tanaman dan belum mempunyai rumah industri pengolahan buah kakao, namun untuk mengoptimalkan pasar komoditas itu, pihaknya menggandeng sebuah pabrik coklat di wilayah Yogyakarta.
“Jadi ukuran-ukuran tertentu perusahaan mau menampung kakao petani Bantul, saya sudah penjajagan dan kerja sama, jadi supaya hasil kakao sebelum punya usaha olahannya, petani masih bisa memperoleh uang. Tapi rintisan kami tetap ada pabrik kecil di Terong,” katanya.
Ia mengatakan, dalam pengembangan sentra budi daya kakao tersebut, dinas terus memberikan motivasi dan pendampingan kepada para kelompok tani Terong untuk bisa memanfaatkan lahan marginal guna ditanami kakao sebagai komoditas jiwanya orang Terong.
“Kalau potensi yang bisa ditanami kakao di Terong bisa 3.000 hektare, bisa di tanah pribadi mereka yang tidak pernah ditanami apa-apa. Jadi potensinya besar sekali di Terong itu, namun yang jadi andalan Bantul yang seribu hektare,” katanya.(anjas)

Leave a Reply