Pemkot: Banjir Masih Mengancam Wilayah Mataram

Mataram, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, banjir masih mengancam wilayah Mataram beberapa tahun ke depan karena hingga saat ini pembebasan lahan untuk pembangunan waduk di kawasan Babakan belum dianggarkan.

  “Banyak program prioritas pembebasan lahan tahun ini, membuat pembebasan lahan untuk waduk Babakan tahun ini tidak terakomodasi,” kata Asisten II Bidang Perkonomian dan Administrasi Pembangunan Kota Mataram H Mahmuddin Tura di Mataram, Jumat.

  Padahal, lanjutnya,  keberadaan waduk tersebut juga sangat mendesak sebagai salah satu upaya menangani masalah banjir dan genangan yang selalu mengancam kota ini terutama di kawasan bagian selatan.

  Apalagi, pertumbuhan pembangunan di Mataram sekarang cukup pesat, sehingga memicu pengurangan daerah resapan air. Akibatnya, ketika terjadi hujan sebentar, genangan sudah di mana-mana, belum lagi banjir yang disebabkan luapan air sungai dan drainase.

  “Program sumur resapan kami rasa kurang efektif, karena sumur resapan hanya untuk lahan kecil sementara yang akan kita atasi adalah lahan luas,” katanya.

  Dikatakan, pembangunan waduk tersebut telah direncanakan sejak dua tahun lalu, namun proses pembangunannya terkendala lahan. Sementara untuk pembangunan fisik sepenuhnya dilaksanakan Balai Wilayah Sungai (BWS).

  “Kebutuhan lahan untuk waduk ini seluas 6 hektare, sementara saat ini pemkot sudah memiliki 1,8 hektare. Jadi, kita tinggal membebaskan 4,2 hektare,” sebutnya.

  Dengan luas lahan 6 hektar dan kedalaman sekitar 5 meter, diprediksi waduk itu nantinya dapat menampung sekitar 300 ribu kubik air hujan dari hulu, sehingga air tidak langsung mengalir ke hilir yang memicu terjadinya banjir.

  Sementara menyinggung tentang kebutuhan anggaran, Mahmuddin belum dapat merinci, sebab desain detail bangunan akan dibuat oleh BWS setelah lahan dibebasakan secara menyeluruh.

  “Begitu juga dengan kebutuhan anggaran pembebasan lahan, perlu penghitungan dari tim penaksir harga. Tapi biasanya kalau lahan ruang terbuka hijau harganya sekitar Rp20 juta per are,” katanya.

  Menurutnya, selain waduk tersebut bermanfaat sebagai tempat penampuang air yang datang dari hulu, juga bisa berfungsi menjadi sumber air baku, pengairan irigasi serta sebagai objek wisata.

  “Pembangunan waduk sudah kita konsep seperti hutan kota, sehingga bisa menjadi lokasi wisata, edukasi dan rekreasi,” katanya.(anjas)