Pemkot Malang Rekomendasikan Delapan Poin Pencegah Radikalisme

     Malang, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur,  Rabu malam merekomendasikan delapan poin pencegah radikalisme di lingkungan perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN-PTS) setempat.
Dalam rekomendasi, Pemkot Malang meminta PTN dan PTS merumuskan pola orientasi mahasiswa baru dengan materi keagamaan yang benar, nilai-nilai Pancasila, cinta tanah air, patriotisme, serta materi wawasan kebangsaan.
Rekomendasi selanjutnya adalah menjalin dan menguatkan kerja sama dengan pemerintah kota, TNI, Polri dan pemuka agama dalam hal pemberian materi pembekalan kepada mahasiswa serta pelajar baru, memberikan penguatan, peran strategis melalui program kerja yang produktif dan positif kepada organisasi kampus yang ada dan telah terdata/terdaftar di kampus.
Selain itu, memperbanyak kajian kajian riset dan pengabdian kepada lingkungan, memperbanyak dan atau meningkatkan kualitas pertemuan antara dosen dan mahasiswa, mewaspadai tumbuhnya gerakan radikalisme dan separatisme di lingkungan kampus, terlibat secara aktif dalam program-program Pemkot Malang, TNI (Kodim 0833) dan Polri (Polres Malang Kota), serta membentuk paguyuban rektor se-Kota Malang sebagai partner konstruktif pemerintah daerah.

      Pjs Wali Kota Malang Wahid Wahyudi mengatakan, Malang tergolong kota yang kondusif, bahkan kondusivitas keamanannya telah diakui pada forum jejaring kota-kota kondusif sedunia yang digelar di Kota Atalya Turki pada 2016.
“Kondusivitas Kota Malang ini juga diperkuat oleh predikat Kota Malang sebagai kota layak huni. Predikat yang disematkan pada Kota Malang ini memberikan gambaran bahwa kota pendidikan tersebut merupakan kota yang terjaga keamanan, ketertiban, ketenangan dan kenyamanannya,” kata Wahid di sela pertemuan dengan rektor PTN-PTS, ulama dan umaro se-Kota Malang di Balai Kota Malang, Rabu malam.
Dengan demikian, lanjutnya, Malang menjadi tujuan wisata, pilihan untuk melakukan kegiatan jasa dan perdagangan, serta menjadi pilihan dan rujukan bagi pelajar di Indonesia untuk menempuh pendidikan. Konsekuensinya adalah keragaman akan hadir di Kota Malang.
Kondisi yang beragam di Kota Malang ini menjadi miniatur Nusantara. “Namun, di balik semua potensi itu, kita tetap perlu membangun kewaspadaan, utamanya menyikapi merebaknya radikalisme dan kejadian teror yang berlangsung secara beruntun,” ucapnya.(anjas)

Leave a Reply