Pemkot Terapkan Upaya Repetisi Atasi Pedagang Tuak

     Mataram, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menerapkan upaya repetisi guna mengatasi pedagang minuman keras tradisional jenis tuak yang masih berjualan secara demonstratif.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Mataram Bayu Pancapati di Mataram, Kamis, mengatakan upaya repetisi atau peneguran berulang-ulang kepada para pedagang tuak dilakukan secara rutin hingga pedagang bosan.
“Setiap malam anggota kami turun patroli, memantau sejumlah titik pedagang tuak yang masih terindikasi berjualan secara terbuka,” katanya kepada sejumlah wartawan.
Sejak dirinya dilantik menjadi Kasatpol PP Kota Mataram pada Rabu (17/1), ia telah berkomitmen memberikan atensi penanganan khusus terhadap pedagang tuak terutama yang sudah mendapatkan kompensasi dari pemerintah kota untuk mengganti jenis usahanya dengan usaha lain.
Penertiban terhadap pedagang minuman keras itu sebagai salah satu implementasi dari Perda Kota Mataram Nomor 2 tahun 2015 tentang Pengendalian Minuman Beralkohol, termasuk minuman keras tradisional.
Menurutnya, dampak yang ditimbulkan dari konsumsi minuman keras tersebut telah menimbulkan banyak permasalahan di masyarakat.

     Karena itulah, Pemerintah Kota Mataram memberikan perhatian luar biasa untuk mengatasi sumber permasalahan yaitu menertibkan penjualan minuman keras.
“Kerap kali minuman keras ini menjadi pemicu konflik yang tidak jarang bahkan melebar menjadi konflik yang melibatkan kelompok-kelompok masyarakat,” katanya.
Terkait dengan itu, dengan upaya repetisi diharapkan bisa memberikan kesadaran bagi para pedagang, agar tidak berjualan secara demonstratif sehingga tidak menarik perhatian anak muda.
Lebih jauh, Bayu mengatakan, untuk patroli Rabu malam (24/1), anggotanya menyasar Jalan Sriwijaya dan menemukan tiga titik pedagang tuak yang menjajakan dagangannya secara demonstratif.
“Pedagang tersebut sudah kami ingatkan, dan harapannya saat kita patroli nanti malam tiga pedagang itu tidak lagi berjualan tuak secara terbuka,” katanya.
Lebih jauh Bayu mengatakan dalam penerapan repetisi, sanksi yang diberikan kepada pedagang tuak yang membandel adalah penyitaan barang dagangan mereka.
“Ruginya memang sedikit karena satu botol tuak dijual Rp20 ribu, tapi kalau setiap malam kita sita 10 botol, maka mereka kehilangan omzet Rp200 ribu per malam, sehingga mereka akan berpikir lebih baik menjual secara tertutup daripada kehilangan Rp200 ribu,” ujarnya.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − four =