Pemprov Jabar Dorong Pembangunan Sekolah Ramah Anak

     Bandung, jurnalsumatra.com – Bunda Literasi yang juga istri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, yakni Netty Heryawan menuturkan Pemprov Jawa Barat mendorong pembangunan sekolah ramah anak sebagai upaya menindaklanjuti Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015, tentang Sekolah Ramah Anak (SRA).
“Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat terus mendorong pembangunan SMA/SMK, baik dari segi infrastruktur maupun tenaga kependidikan,” kata Netty Heryawan, dalam siaran persnya, Selasa.
Menurut peraturan tersebut, kata dia, SRA harus memenuhi tiga unsur, yakni infrastruktur (hardware), bahan ajar atau kurikulum (software), dan SDM tenaga kependidikan (brainware).
Mengingat bahwa ketiga unsur tersebut cenderung sulit dan butuh proses yang panjang untuk diimplementasikan, maka ia menuturkan tentang upaya mewujudkan SRA yang paling mudah dapat dilakukan melalui tiga hal berikut.
Ia mengatakan yang pertama ialah penyambutan dan penerimaan guru terhadap muridny dan baginya menjalin pendekatan dengan peserta didik akan membawa rasa nyaman dan suasana yang bersahabat, sehingga siswa akan senang dan bersemangat menjalani kegiatan di sekolah.
“Ini penting, minimal tanya kabar siswa, ungkit hal-hal yang disukainya. Sambutlah mereka sebagaimana kita menyambut anak-anak kandung kita,” kata Bunda Netty saat menjadi narasumber Sekolah Ramah Anak Sebagai Rumah Kedua dan Sekolah Tanpa Kekerasan, di SMAN 10 Kota Bandung.

     “Gunakanlah gaya komunikasi antara orang tua dengan anak, bukan seperti atasan dengan bawahan,” lanjutnya.
Selain itu, proses belajar yang menyenangkan bagi siswa menjadi poin penting kedua yang harus diprioritaskan dalam mewujudkan SRA.
Poin ini dibuktikan langsung oleh Netty dengan bertanya pada siswa siswi SMAN 10 dan saat ia bertanya mata pelajaran yang paling disukai, jawaban para siswa beragam, mulai dari matematika, olahraga hingga KWU (Kewirausahaan).
Namun saat ditanya alasannya, kata dia, semua siswa dengan kompak menjawab karena guru mata pelajaran tersebut ramah, asyik, supel dan bersahabat.
“Nah, ibu dan bapak guru, ini yang diinginkan siswa. Nanti boleh tanya sama guru yang bersangkutan, gimana tips mengajar yang asyik, biar siswa jadi suka semua pelajaran,” kata Netty.
Sedangkan hal ketiga yang harus diprioritaskan yaitu penanganan masalah. Meski SMAN 10 Bandung sudah memiliki delapan guru bimbingan konseling yang kompeten di bidangnya, namun baik siswa maupun guru harus paham bagaimana dan kemana mereka harus melapor jika terjadi sesuatu yang tidak mampu ditangani oleh pihak konseling.
“Jangan sampai ada penghapus papan tulis melayang di kelas, jangan sampai terjadi seperti di provinsi lain dimana seorang siswa tega menghabisi gurunya sendiri,” ujar Netty.(anjas)

Leave a Reply