Pengelolaan Sampah Surabaya Libatkan Partisipasi Masyarakat

     Surabaya, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, mendapat apresiasi dari dunia internasional, karena selama ini dalam pengelolaan sampah di jalan melibatkan partisipasi masyarakat.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Sekretariat Kota Surabaya, M Taswin di Surabaya, Jumat mengatakan, dalam manajemen sampah, Pemkot Surabaya turut melibatkan masyarakat dan berbagai pihak, salah satunya program Surabaya Green and Clean, Eco-School dan Surabaya Merdeka dari Sampah.
“Semua ini merupakan bentuk nyata program partisipasi masyarakat dalam mengolah sampah di Surabaya,” katanya.
Menurut dia, Pemkot Surabaya memang telah melakukan berbagai inovasi untuk pengelolaan sampah di Surabaya salah satunya melalui program 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) dengan pengurangan dan pemilahan sampah mulai dari sumbernya, optimalisasi pemilahan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS), pengolahan limbah plastik serta mengubah sampah menjadi sumber energi listrik.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebelumnya mengatakan pada 2003, Surabaya mengalami masalah besar sampah. Saat itu, Surabaya dikenal sebagai kota yang panas, kering, dan sering banjir selama musim hujan. Hampir 50 persen dari total wilayah Surabaya banjir pada waktu itu.
Untuk mengatasi masalah ini, Risma mengajak partisipasi masyarakat yang kuat untuk bekerja bahu membahu dengan pemerintah kota dalam melakukan pengelolaan limbah. Alasan mengajak partisipasi masyarakat, menurut Risma karena Kota Surabaya memiliki masalah besar untuk diselesaikan, tetapi dengan anggaran terbatas yang tersedia.
Oleh karena itu, pihaknya kemudian menciptakan berbagai macam program dan kebijakan untuk menyelesaikan masalah ini, agar tidak membebani anggaran lokal, di antaranya yakni mengajak masyarakat untuk ikut berperan serta bersama pemerintah mengatasi permasalahan sampah.

   Warga mulai diajarkan bagaimana mengelolah sampah secara mandiri, yang berkonsep pada 3R. Partisipasi publik yang kuat menjadi faktor utama keberhasilan Kota Surabaya dalam mengatasi permasalahan sampah.
Metode pengomposan sederhana dengan biaya rendah juga diperkenalkan ke masyarakat dengan menggunakan keranjang Takakura di setiap rumah. Bahkan, warga mulai diajak mendirikan bank sampah, dimana orang dapat menjual sampah anorganik mereka secara teratur dan menarik uang ketika mereka membutuhkannya.
Banyak bahan dari sampah yang digunakan kembali sebagai dekorasi kampung, pot bunga, pohon natal, dan sebagainya. Orang-orang juga mendaur ulang sampah anorganik menjadi produk yang bernilai ekonomis untuk dijual dan mendapatkan penghasilan tambahan.
Ia mengatakan Surabaya juga bekerja sama dengan mitra internasional dalam metode pengelolaan limbah, termasuk Kota Kitakyushu untuk pengomposan dan pemilahan sampah, serta Swiss untuk penggunaan lalat hitam dengan tujuan mengurangi sampah organik.
Keberhasilan Kota Surabaya dalam mengelola sampah mendapat apresiasi dunia Internasional. Hal itu terlihat saat ada kunjungan delegasi UN Environment Asia and The Pacific Office yang didampingi oleh perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Luar Negeri RI. Mereka mengunjungi Kota Pahlawan selama dua hari yakni pada 9-10 Januari 2019.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Benowo dan melihat secara langsung proses pengelolaan sampah di tempat tersebut, termasuk mesin-mesin pengolahnya yang besar.
Selain itu, mereka juga mencoba langsung tarnsportasi massal berupa  Suroboyo Bus yang pembayarannya memakai botol plastik. Mereka dibuat terheran-heran dengan terobosan naik bus dibayar botol plastik.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + 18 =