Pengusaha Penyuap Panitera Divonis 28 Bulan

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Direktur Utama PT Aquamarine Divindo Inspection (AMDI) Yunus Nafik penyuap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) divonis 28 bulan atau tahun dan empat bulan penjara ditambah denda Rp50 juta subsider dua bulan.
Vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis, itu lebih ringan dibanding dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) KPK yang meminta agar Yunus divonis 3,5 tahun penjara ditambah denda Rp50 juta subsider tiga bulan
Majelis hakim yang terdiri atas Rustiyono selaku ketua, Ni Made Sudani, Mochamad Arifin, Sigit Herman Binaji dan Mochamad Agus Salim menyepakati bahwa ada persamaan niat antara Yunus dengan pengacaranya, Akhmad Zaini, untuk memenangkan perkaranya.
“Hal yang memberatkan, terdakwa seharusnya tidak mengikuti permintaan penasihat hukumnya yang mengurus perkara dengan cara menyimpang dari aturan,” kata Ketua Majelis Hakim Rustiyono.
Yunus langsung menerima putusan itu, sedangkan jaksa penuntut umum KPK menyatakan pikir-pikir.
Yunus bersama dengan pengacara Akhmad Zaini dinyatakan terbukti menyuap Panitera PN Jaksel Tarmizi agar tidak menyetujui gugatan perdata Nomor 688/Pdt.G/2016/PN.Jkt.Sel yang diajukan Eastern Jason Fabrication Services (PT EJFS) Pte Ltd dan mengabulkan gugatan rekonpensi PT Aqua Marine Divindo Inspection (AMDI) selaku pihak terduga yang diwakili Akhmad Zaini sebagai kuasa hukumnya.
PT EFJS menggugat PT AMDI untuk membayar ganti rugi akibat wanprestasi sebesar 7.603.198,45 dolar AS dan 131.070,50 dolar Singapura. Perkara ditangani Djoko Indiarto (ketua majelis) dan panitera pengganti adalah Tarmizi.
PT AMDI lalu mengajukan gugatan balik (rekonpensi) kepada PT EJFS sebesar 4.995.011,57 dolar AS.
Pada Maret-Mei 2017, Akhmad Zaini menemui Tarmizi di ruang panitera pengganti PN Jakarta Selatan dan meminta agar Tarmizi membantu gugatan wanprestasi PT AMDI tersebut.
Zaini lalu memberikan uang Rp25 juta kepada Tarmizi pada 20 Juni 2017 melalui transfer atas nama Tedy Junaedy, tenaga honor kebersihan di PN Jaksel. Uang itu digunakan untuk keperluan pribadi saat liburan Idul Fitri.

    Tarmizi lalu meminta Zaini menemuinya dan menanyakan keseriusan PT AMDI dalam gugatan wanprestasi karena dirinya telah dipercaya hakim ketua Djoko Indiarto sehingga dapat meyakinkan majelis hakim agar membantu PT AMDI.
Pada 16 Juli 2017, Zaini juga memesankan kamar untuk menginap Tarmizi dan rombongan keluarga serta teman-temannya di hotel Garden Palace Surabaya dan memberikan fasilitas lain berupa hotel/vila di Batu, Malang serta membelikan oleh-oleh untuk Tarmizi. Zaini masih menyewakan mobil selama 3-4 hari sebesar Rp5 juta yang dibayar PT AMDI atas persetujuan Yunus.
Di hotel Garden Palace itulah Zaini menemui Tarmizi dan meminta Tarmizi memengaruhi majelis hakim agar mengabulkan tiga paket permohonan PT AMDI, yaitu gugatan dari PT EJFS ditolak, gugat rekonpensi PT AMDI diterima, dan sita jaminan yang diajukan PT AMDI dapat diterima dengan imbalan yang disepakati adalah Rp400 juta.
Yunus lalu memberikan uang Rp250 juta dalam bentuk cek Bank BNI atas nama PT AMDI. Cek itu diserahkan Zaini pada 16 Agustus. Hari itu juga Zaini mentransfer Rp100 juta melalui transfer atas nama Tedy Junaedi. Namun, karena jumlah masih kurang dari nilai yang disepakati maka Tarmizi mengatakan putusan perkara masih akan ditunda hingga janji dipenuhi PT AMDI.
Zaini pun meminta tambahan uang lagi sehingga Yunus memberikan cek Rp100 juta atas nama PT AMDI pada 19 Agustus 2017. Saat pertemuan 21 Agustus 2017, Tarmizi mengembalikan cek Rp250 juta karena tidak bisa dicairkan di bank sehingga Tarmizi minta uang ditransfer ke rekening.
Zaini lalu mencairkan kedua cek itu di bank BNI dan setelah dicairkan, Zaini pergi ke kantor BCA untuk mentransfer uang sebesar Rp300 juta ke rekening atas nama Tedy Junaedi sehingga total seluruhnya yang sudah diterima Tarmizi adalah sejumlah Rp425 juta.
“Terdakwa mengakui uang ditujukan untuk hakim PN Jaksel dan mencabut BAP yang menyatakan uang ratusan juta itu untuk kambing dan sapi dan mengakui menyuruh Akhmad Zaini dengan memberi uang, tapi yang diketahui hanya Rp350 juta bukan Rp425 juta,” tambah hakim.
Terkait perkara ini, Akhmad Zaini sudah divonis 2,5 tahun penjara ditambah denda Rp50 juta subsider tiga bulan.(anjas)

Leave a Reply