Penularan Suspek Antraks Di Bondowoso Melalui Tanah

     Situbondo, jurnalsumatra.com – Kasus suspek antraks terhadap tiga warga Desa Kembang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, diduga ditularkan lewat tanah di desa itu yang sebelumnya juga diduga terpapar virus antraks pada puluhan tahun silam.
“Karena dari hasil pemeriksaan hewan ternak di Desa Kembang, Kecamatan Tlogosari, itu tidak ditemukan hewan ternak yang menimbulkan gejala klinis antraks, sehingga kemungkinan besar tiga warga suspek antraks tersebut penularannya melalui tanah,” kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Pemkab Bondowoso, drh Cendy Herdiawan di Bondowoso, Rabu.
Ia menjelaskan, antraks merupakan virus tanah yang bisa hidup dalam jangka waktu lama yaitu di atas 40 tahun. Dan oleh karenanya dugaan kuat di daerah tersebut pernah terpapar virus antraks puluhan tahun lalu.
Hasil survei hari kedua di lokasi atau sekitar rumah tiga orang warga suspeks antraks, katanya, oleh Dinas Kesehatan Bondowoso, Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, beserta Dinas Pertanian dan Peternakan tidak ditemukan hewan ternak yang terinfeksi virus antraks.

    “Dari keterangan mantri kami yang sudha bertugas selama 28 tahun tidak pernah ada kasus antraks di Kecamatan Tlogosari,” katanya.
Cendy memastikan bahwa di Kabupaten Bondowoso tidak pernah terpapar virus antraks, dan hal itu dikuatkan dari catatan Dinas Pertanian dan Peternakan setempat yang menyebutkan bahwa Bondowoso aman dari virus antraks.
Guna memastikan kesehatan hewan ternak di Bondowoso serta mengetahui penyebab suspek antraks yang menimpa tiga warga, lanjut dia, tim laboratorium kesehatan hewan Malang bersama Dinas Peternakan Provinsi Jatim akan melakukan uji laboratorium tanah di lokasi suspek antraks tersebut.
Data diperoleh, di sekitar rumah warga yang mengalami luka bakar dan melepuh serta bernanah pada kulitnya dan tak kunjung sembuh diduga suspek antraks itu terdapat bekas rumah pemotongan hewan yang diduga sewaktu-waktu masih digunakan oleh warga setempat.(anjas)

Leave a Reply