Peran Keluarga Menentukan Ketahanan Bangsa

SLEMAN, Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, peran keluarga sangat menentukan kualitas bangsa. Ini dikarenakan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembinaan tumbuh kembang, menanamkan nilai-nilai moral dan pembentukan kepribadian individu.

“Kalau diibaratkan, keluarga merupakan sebuah pondasi untuk tumbuh dan berkembanganya sebuah bangsa. Jika pondasinya kuat dan kokoh, maka bangunan di atasnya dapat berdiri tegak, awet dan tahan terhadap guncangan,” kata Drs M Afnan Hadikusumo, Minggu (22/7/2017).

Menurut Afnan, pondasi yang kuat haruslah berawal dari keluarga-keluarga yang berkualitas dan tangguh. “Sehingga tercipta ketahanan nasional dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa,” tandas M. Afnan Hadikusumo, Anggota MPR RI, di sela-sela acara “Sosialisasi Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika” kerjasama antara MPR RI dengan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sleman di Aula Kampus Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Sayangnya, seperti disampaikan Afnan, saat ini masih banyak “pekerjaan rumah” bagi bangsa Indonesia dalam membangun ketahanan keluarga. “Di antaranya tingkat perceraian yang tinggi, masih banyaknya kekerasan, kenakalan remaja, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, radikalisme dan pudarnya semangat nasionalisme,” papar Afnan.

Itu semua, dikatakan Afnan Hadikusumo, merupakan wajah buruk tentang rapuhnya kondisi keluarga indonesia.

Dalam paparan akhirnya, cucu Pahlawan Nasional, Ki Bagoes Hadikusumo, mengatakan, sesungguhnya penanaman nilai spiritualitas pada anak sejak dini sangat penting. “Guna membangun karakter anak,” tandas Afnan, yang menambahkan umpamanya anak diajarkan mendalami kitab suci al-Qur’an atau diajarkan tentang aturan-aturan agama serta bagaimana memraktikkannya.

“Agar, saat ia remaja atau dewasa, sudah ada pengetahuan dan tertanam dalam dirinya perilaku apa saja yang baik dan benar,” ujar Afnan lagi.

Sehingga, orang tua tidak akan khawatir bila anaknya jauh dari mereka. “Karena pribadinya sudah terbentuk sikap yang baik,” terang Afnan, yang menyampaikan dalam pembentukan karakter ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi.

Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik.

Kemudian, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan dan membenci perbuatan buruk. Misalnya, anak tidak mau berbohong, karena berbohong itu hal yang buruk.

Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya.

Sementara itu, Hj. Aminah Masykur, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sleman, di sela-sela acara tersebut manyatakan, sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara yang disisipi dengan nilai-nilai agama sangat penting dan bermanfaat bagi pembentukan karakter bangsa. “Terutama dalam membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah,” kata Aminah Masykur.

Sebab, disadari atau tidak, secara tidak langsung dengan terbentuknya keluarga yang sakinah ini akan menjadikan ikatan persatuan bangsa menjadi lebih erat. “Dan ketahanan bangsa menjadi lebih kuat,” ujar Aminah Masykur.

Dalam acara yang dihadiri seratus lima puluh orang peserta itu, terdiri dari utusan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) se-kabupaten Sleman, juga dihadiri oleh Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 19 =