Perantau di Ubud bantu sesama terdampak pandemi COVID-19

Gianyar, Bali, jurnalsumatra.com – Komunitas perantau di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, melakukan aksi sosial dengan membantu sesama (perantau) yang kurang beruntung karena kena PHK, dirumahkan, kehilangan banyak pendapatan dan tidak bisa pulang ke kampung halaman sebagai dampak dari pandemik COVID-19.

  “Kami membagikan sejumlah uang, makanan dan sembako kepada mereka menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ini merupakan aksi pertama, semoga bisa terus bergulir seperti bola salju yang makin membesar,” kata Andreas Tanesto, Ketua Perantau Peduli Sesama di Ubud, Kabupaten Gianyar, Jumat.

  Pada tahap pertama ini, ada 17 perantau yang menerima bantuan sosial. Mereka umumnya tinggal di Ubud, dan sekitar Kabupaten Gianyar.

  “Ini baru langkah pertama sebagai inspirasi yang mungkin dapat mengetuk para perantau yang beruntung di Ubud yang memiliki usaha untuk membantu para sesama yang saat ini kurang beruntung terkena dampak pandemi COVID-19,” ujar Andreas, perantau asal Surabaya.

  Menurut dia, banyak perantau di Ubud, yang bernasib kurang beruntung karena hotel tempat kerja mereka tutup, begitu juga dengan bisnis toko kerajinan (artshop), restoran, salon kecantikan dan SPA. Sebagian besar kena PHK, dan “terjebak” tidak bisa pulang kampung.

  Hal ini mungkin terjadi pula di berbagai kota dan daerah lain di Bali. “Kami para perantau di Ubud melakukan aksi peduli sesama berharap daerah lain, para perantau yang beruntung sudi membantu saudara mereka, sesama perantau yang kurang beruntung. Saat pandemi ini merupakan momentum para perantau di Ubud dan daerah lainnya di Bali untuk solidaritas, kompak dan bersatu, saling membantu melewati masa pandemi ini,” kata Demos Runtukahu, juru bicara komunitas perantau, keturunan Manado-Dayak.

  Ia menambahkan komunitas perantau ini berasal dari berbagai daerah dan agama, begitu juga dengan penerima bantuan sosial itu terdiri dari berbagai daerah dan agama.

  Indra Santoso, perantau di Ubud yang sudah 20 tahun, mengatakan kepada semua perantau untuk tetap semangat, terus bekerja dan jangan lupa terus berdoa kepada Tuhan. Karena pengalaman tinggal di Bali telah mengalami beberapa tantangan, seperti saat bom Bali. “Kita pasti bisa melewati badai ini, apalagi kita saling membantu, saling berjabatantangan dalam menghadapi pandemi ini,” katanya.

  Indra adalah pemandu wisata freelance. Ia banyak kehilangan pendapatan karena pariwisata di Bali bisa dikatakan mati saat ini. Semua objek wisata kini ditutup sementara, semua penerbangan internasional dan domestik juga dihentikan sementara.

  Tri, seorang ibu rumah tangga, membagi cerita tantangan hidupnya saat pandemi ini. “Suami saya dulu sering dapat pekerjaan mengantar tamu (wisatawan), tapi kini banyak menganggur karena pariwisata di Bali terperosok. Saya dan suami kini hidup dari jualan gorengan. Anak kami ada yang kuliah di Universitas Udayana. Anaknya sudah minta berhenti kuliah untuk bantu orang tua. Tapi kami cegah,” tutur dia.

  “Dalam masa sulit ini, kami tidak putus asa. Puji syukur ada saja teman yang membantu. Oleh karena itu, saya mau membagi semangat kepada semua perantau untuk tidak pantang menyerah, dan jangan lupa untuk terus selalu berdoa kepada Tuhan,” kata Tri, perantau asal Jawa Tengah.(anjas)