Perda Pesta Rakyat Dikhawatirkan Menelan Korban

Muba, jurnalsumatra.com –  Peraturan daerah (Perda) No 2 Tahun 2018  Tentang Pesta Rakyat yang di bentuk Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menjadi polemik.

Meski Pemkab Muba telah membentuk tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Sat Pol-PP pihak Kecamatan dan pemerintah desa untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak menggelar pesta pada malam hari. Namun masih banyak masyarakat muba yang nekat untuk melanjutkan hiburan berupa musik/organ tunggal hingga tengah malam.

Seperti di Kecamatan Sanga Desa, Babat Toman, Lais, Bayung Lencir, Batang Hari Leko dan Kecamatan Plakat Tinggi, bahkan Sabtu (16/11/2019) malam, warga desa Bailangu Kecamatan Sekayu juga nekat menggelar pesta malam, beruntung berhasil dibubarkan oleh Tim gabungan, namun suasana tampak memanas. 

Berdasarkan pantauan Jurnal Sumatra.com dilapangan, jika hal ini dibiarkan berlarut-larut atau Pemkab Muba tidak segera mencarikan solusinya bisa saja timbul perseteruhan antara masyarakat dengan petugas.

Contohnya di desa Keban 1 Kecamatan Sanga Desa, masyarakat pengunjung pesta yang merasa terusik menjadi beringasan, aksi lempar botol air meneral dan bantinng kursi pun mewarnai, saat tim gabungan berupaya membubarkan pesta malam didesa tersebut. Dikarenakan situasi terus memanas dan berpotensi terjadinya konflik, akhirnya tim memutuskan untuk mundur dari lokasi, pesta pun digelar lewat dari pukul 02 malam.

Andip Apriansyah (40) salah satu tokoh masyarakat desa Bailangu menjelaskan, kalau pesta malam yang digelar warga desa Bailangu itu dalam rangka pembubaran panitia acara resefsi pernikahan dan sekaligus membayar niat (nazar) orang tua pengantin laki-laki yang tertanam sejak sang pengantin masih kecil.

“”Dak akor kando perda itu, tidak berpihak kepada rakyat.  Pesta malam  itukan satu-satunya hiburan rakyat kecil. Kalau takut banyak peredaran narkoba suruh saja BNN yang bergerak jangan menghalangi kebutuhan orang.” Sesal Andip.

Politisi partai Golkar ini juga tidak menampik kalau malam rama tama itu ada sisi negativnya, tapi menurut dia lebih banyak sisi positifnya, seperti lelang tradisional bir/ayam, salaman pengantin, tamu undangan yang tidak sempat hadir waktu siang acara resepsi pernikahan/khitanan bisa menyumbang saat digelarnya pesta malam. Selain itu pesta malam juga menjadi peluang kerja bagi masyarakat seperti, menjual makanan/minuman, membuka parkir kendaraan bahkan malam rama-tama yang sudah mentradisi itu menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat pedesaan.

“Pesta malam itu bukan tempat maksiat, pecandu narkoba itu tidak hanya dipesta, banyak tempat lain seperti cafe, discotik tempat karokean di bawah jembatan sekalipun bisa digunakan pencandu narkoba.”Tegasnya.

Andip meminta agar Bupati Muba menyikapi polemik ini dengan bijaksana dan mendengarkan aspirasi dari masyarakat. Jangan sampai masyarakat muba merasa dirugikan Perda ini. 

“Harapan kami rakyat kepada Pemkab Muba PERDA itu di revisi aturannya kalau bisa kita rakyat muba tetap bisa mengadakan pesta dengan aturan2  yang sudah diatur dalam Perda. Seperti tidak melantunkan house music ,tidak mematikan lampu dalam tenda dan batas waktu. Kami sangat menyayangkan jika pemerintah tetap bersitegang dengan perda ini, mana lagi hiburan rakyat kecil.”Harap dia. 

Andip juga mengkhawatirkan jika Perda tersebut tidak segera direvisi bisa terjadi hal hal yang tidak di ingin antara tim gabungan dengan masyarakat.

“Masyarakat nekad karena butuh hiburan, sementara tim gabungan membubarkan berdasarkan tugas, nah jika terus-menerus besar kemungkinan terjadi konflik fisik dan menelan korban jiwa. 

Buktinya saat digelarnya pesta malam di desa Bailangu, pengunjung satu tenda itu sudah siap ingin mengeroyok petugas gabungan, beruntung mereka masih mendengar saa diberi pengertian.”Kata dia.

Senada dikatakan Jenawi (60), salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Plakat Tinggi. Menurut Jenawi kalau sekedar untuk mengantisifasi peredaran Narkoba lebih tepat Pemkab Muba membuat Perda tentang larangan host music, karena dia menduga music keras itu ada kaitan dengan peredaran narkotika.

“Adanya perdedaran narkoba dan amburadul acara pesta malam itu, diduga karena ada music berirama remix, buktinya dibawah pukul 12 selagi music berirama dangdut acaranya sportif tidak ada yang minta dimatikan lampu.”Ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Muba H Dodi Reza Alex Noerdin saat dikonfirmasi lewat via WhatsApp menjelaskan, bahwa ia akan serap masukan dari masyarakat untuk revisi Perda tersebut.”Kita akan serap masukan untuk revisi, tapi intinya tidak akan dicabut,”Tandas Bupati melalui pesan singkatnya. (Rafik elyas)