Persoalan Distribusi Guru Diatasi Dengan Pembelajaran Daring

     Jakarta, jurnalsumatra.com – Pemerhati pendidikan Muhammad Nur Rizal mengatakan permasalahan tidak meratanya guru di Tanah Air dapat diatasi melalui pembelajaran dalam jaringan atau daring.
“Kalau bicara rasio guru,  rasio guru kita 1:16 tersebut sudah lebih dari cukup, karena di luar negeri sendiri seperti itu. Akan tetapi masalah kita adalah distribusi guru yang tidak merata dan mutu guru, yang menurut saya bisa digantikan dengan pembelajaran daring,” ujar Rizal di Jakarta, Rabu.
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tersebut menambahkan pada era disrupsi seperti saat ini,  masalah tidak meratanya distribusi guru bisa diatasi dengan pembelajaran daring.
Dia menjelaskan teknologi akan menghadirkan “big data”, yang antardata satu dengan data yang lain saling terhubung satu sama lain.
“Kemudian dengan adanya kecerdasan buatan yang mengelola data tersebut menjadi informasi baru yang dibutuhkan. Sehingga persoalan tidak meratanya guru, bisa diatasi dengan pembelajaran daring” papar dia.Dengan demikian, untuk kasus-kasus tertentu, dapat dijawab dengan mesin. Rizal melihat justru melihat akan terjadi pergeseran peran guru.

    “Peran guru justru akan terdisrupsi. Jangan sampai disrupsi menjadi hal negatif namun menjadi inovasi,” imbuh dia.
Menurut dia, yang diajarkan guru pada era disrupsi adalah membangun inspirasi dan metakognisi siswa agar memiliki kemampuan untuk mengolah informasi yang luber seperti saat ini. Metakognisi yang dimaksud adalah belajar caranya belajar, bukan lagi belajar konten.
“Jika pada era revolusi industri 2.0 dan revolusi industri 3.0,  siswa belajar konten dengan cara menghapal. Semakin hapal semakin pintar. Kita anggap anak pintar. Kebutuhan ke depan, anak yang kreatif adalah anak yang kreatif, yang memiliki kemampuan hidup yang justru bertahan.”
Oleh karena itu, pada era ini guru harus menjadi motivator, inspirator maupun fasilitas bagi siswa. Hal tersebut dilakukan karena pengetahuan kini justru ada di internet bukan lagi pada guru.
“Guru harus memberikan dukungan, ketika siswa tersebut tidak mampu menyelesaikan masalahnya ,” cetus dia.(anjas)

Leave a Reply