Pertamina Pantau Pangkalan LPG Di Aceh Tenggara

    Kutacane, Aceh Tenggara, jurnalsumatra.com – PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I Sumatera Bagian Utara akan melakukan pemantauan agen dan pangkalan akibat indikasi menjual elpiji/LPG bersubsidi tiga kilogram di atas harga eceran etrtinggi (HET) Rp20.000/tabung di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh.
Humas Pertamina MOR I Sumbagut, Rizky Diba Avrita melalui sambungan telepon dari Kutacane, Selasa, mengatakan, pihaknya telah mendapat dari warga setempat atas dugaan menaikkan harga dari HET seharusnya.
“Jika nanti terbukti, maka bagi penyalur seperti agen dan pangkalan akan mendapat tindakan tegas berupa sanksi dari kami. Mulai dari surat peringatan,” terangnya.
Ia melanjutkan, kemudian sanksi berupa pengurangan kuota elpiji bersubsidi tabung tiga kilogram, hingga pemutusan hubungan usaha dengan pihak agen dan pangkalan.
Saat ini mayoritas tingkat pangkalan di Aceh Tenggara memberlakukan harga jual gas elpiji bersubsidi tiga kilogram berkisar antara Rp25.000 hingga Rp27.000 per tabung, atau di atas HET Rp20.000 per tabung yang ditetapkan pemerintah daerah setempat.
Sedangkan di tingkat pedagang pengecer dengan harga bisa mencapai Rp28.000 sampai Rp32.000 per tabung, akibat letak pangkalan yang jauh dari pemukiman usaha.
Dalam waktu dekat, lanjut Rizky, pihaknya segera menurunkan tim dalam waktu dekat ini untuk memantau HET di 84 pangkalan yang dipasok dari dua agen yakni PT Gasta Mulyo dan PT Minanda Desky Jaya di Aceh Tenggara.

“Itu (sanksi), bakal kami berlakukan kepada agen dan pangkalan. Jadi bertahap, setelah mereka mendapat peringatan dari Pertamina,” katanya.
Data PT Pertamina (Persero) MOR I Aceh menyatakan, ketahanan suplai dan stok LPG bersubsidi di wilayah ini ditunjang dengan keberadaan 65 agen, dan 2.416 pangkalan tersebar di 23 kabupaten/kota.
“Agen ke pangkalan Rp18.000, pangkalan ke masyarakat Rp20.000. Ada keuntungan Rp2.000 per tabung yang pemerintah berikan,” tutur Rizky.
Sejumlah warga menilai, pihak pangkalan telah bertindak arogan dengan menaikkan sendiri HET gas elpiji bersubsidi yang ditetapkan oleh pemerintah daerah di Aceh Tenggara.
“Memang di pangkalan itu, tertera harga pembelian Rp20.000 per tabung. Tapi HET ini, tak berlaku ketika kami beli gas tiga kilogram,” ucap Tuti Pinem (35).
Yani Selian (51), warga setempat mengaku rata-rata pangkalan di wilayah itu telah menempelkan surat selembaran dari agen yang terpampang di tingkat distribusi paling akhir dari bahan bakar gas tersebut.
“Kalau kita tanya HET, termasuk surat dari agen, orang pangkalan tak menggubrisnya. Jika mau, beli dengan harga Rp25.000,” terang Yani Selian (51).(anjas)

Leave a Reply