Petani Menggeluh Harga TBS Sangat Merosot

Lahat, jurnalsumatra.com – Dampak dari efek pandemi corona, tidak hanya dirasakan para sektor usaha dan ritel melainkan sektor perkebunan mulai merasakan efek dari ancaman Copid 19.

Seperti, saat ini harga jual Tandan Buah Sawit (TBS) ditingkat pengepul hanya sebesar Rp.900 perkilo. Sehingga, membuat para petani lebih memilih melakukan penimbunan dari pada berjual.

Petani didesa Mekar Jaya Malik menegaskan, dengan harga jual yang hanya sebesar Rp.900 dari sebelumnya Rp.1.700 tentu bukanlah hal yang baik, mengingat selain memasuki tahun ajaran baru momen hari raya Idul Fitri 1441 H juga menjadi situasi dimana membutuhkan biaya hidup yang tidak sedikit.

“Kami sadar, merosotnya harga TBS tersebut, tidak lepas dari bencana Corona melanda hampir diseluruh daerah bahkan dunia, namun jika harga jual hanya sebesar Rp.500 sampai Rp.900 maka lebih baik disimpan digudang dan membusuk,” tegas Malik.

Hal senada juga disampaikan, Hamdanni (48) petani didesa Mekarti jaya menuturkan, anjloknya harga buah Sawit membuat para petani tak bersemangat untuk menyadap, namun karena momen hari raya dan tahun ajaran baru maka mau tidak mau terpaksa harus beraktivitas.

“kalu pengepul datang sendiri maka harga perkilo nya Rp.500 namun jika kami antar maka harganya Rp.900 karena ada biaya ongkos antar jemput. Mau tak mau harus diterima daripada busuk,”imbuhnya.

Sementara itu, Budi Toke TBS di Kecamatan Kikim Barat mengungkapkan, terakhir harg TBS kelapa sawit terus anjlok dari sebelumnya Rp 1.700 perkilogram, saat ini sudah berada diangka Rp 900. Namun kualitas TBS juga ikut menentukan harga. Untuk kualitas A, harga Rp900 perkilogram, sedangkan kualitas B hanya Rp 8500.

“Penurunan harga yang sangat jauh itu, membuat petani lesu di tambah situasi dan kondisi covid-19 sebab hasil panen dalam keadaan tidak normal. Sekitar sebulan lagi diprediksi penen akan berkurang karena saat ini harga dipabrik mencapai Rp 1.200 perkilo,” ujar Budi. (Din)