Polda Kalsel Bongkar Distribusi Ilegal Elpiji

      Banjarmasin, jurnalsumatra.com – Anggota Subdit I Industri Perdagangan dan Investasi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Selatan berhasil membongkar praktik distribusi ilegal elpiji tiga kilogram atau bersubsidi di daerah itu.
“Pelaku tidak mendistribusikan tabung gas ke pangkalan, namun menjual sendiri ke pihak lain dengan harga tinggi,” kata Wadir Reskrimsus Polda Kalsel AKBP Sugeng Riyadi di Banjarmasin, Selasa.
Dia mengatakan praktik tersebut dengan tersangka bernama M. Husin terendus ketika petugas menemukan banyaknya tabung gas elpiji tiga kilogram di Kios Aldi di Komplek Sari Indah Nomor 10 RT08, Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar pada Jumat (2/3).
Saat ditanya petugas, pelaku tidak bisa menunjukkan izin perdagangan dan izin penyimpanan elpiji tiga kilogram.
Sugeng mengungkapkan pelaku adalah sopir yang ditugaskan oleh agen elpiji PT Akomigas  untuk mendistribusikan elpiji dari agen kepada 19 pangkalan di Kota Banjarmasin.
Namun, elpiji dibeli tersangka dengan harga Rp19.000 per tabung ke pemilik pangkalan. Elpiji kemudian diangkut ke kios miliknya untuk dijual ke pedagang dan pengecer seharga Rp25.000 per tabung.
Modus lainnya, pelaku tanpa sepengetahuan pemilik pangkalan langsung mengangkut elpiji ke kios miliknya kemudian menyetorkan uang ke agen dengan harga Rp14.750 per tabung beserta surat kirim dan stempel palsu.

“Bahwa seolah-olah gas sudah diterima di pangkalan,” kata Sugeng didampingi Kasubdit I Indagsi AKBP H Suyitno Ardhi.
Dari praktik distribusi ilegal yang sudah berlangsung sejak 2014 itu, tambah Sugeng, tersangka rata-rata dalam sebulan bisa menjual 3.000 tabung elpiji tiga kilogram.
Saat diamankan, ditemukan 132 tabung elpiji tiga kilogram dalam kondisi berisi dan 717 tabung lainnya kosong, serta 12 stempel milik pangkalan yang dipalsukan tersangka.
“Praktik ini tentu merugikan pangkalan yang tak mendapat pasokan gas untuk dijual dan pada akhirnya merugikan masyarakat banyak yang membutuhkan gas untuk keperluan rumah tangga. Jika pun ada, harganya pasti jauh lebih mahal,” katanya.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 106 jo Pasal 24 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan atau melakukan penyimpanan dan niaga gas elpiji tiga kilogram tanpa izin usaha penyimpanan dan niaga sebagaimana dimaksud Pasal 53 Huruf c dan Huruf d Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dengan ancaman maksimal empat tahun penjagar dan denda paling banyak Rp10 miliar.
Terbongkarnya praktik distribusi elpiji secara ilegal itu membuat polisi mengumpulkan para pemilik pangkalan untuk diimbau melaporkan kepada petugas jika tak mendapat pasokan elpiji dalam waktu lama.
“Pemilik agen juga harusnya lebih waspada dan mengontrol secara berkala pekerjaan anak buahnya sehingga kecurangan dari karyawan bisa dicegah,” kata Sugeng.(anjas)

Leave a Reply