Polisi Bongkar Praktik Prostitusi Di Tulungagung

Tulungagung, jurnalsumatra.com – Polisi dari Resort Tulungagung, Jawa Timur membongkar praktik prostitusi terselubung yang melibatkan jaringan pemandu lagu atau purel kafe-karaoke dan dikendalikan seorang germo.
   Kasus itu diekspos jajaran Polres Tulungagung, Kamis, dengan menghadirkan germo berinisial Ek (20) yang telah ditetapkan sebagai tersangka, karena diduga menikmati keuntungan dari jasa prostitusi yang dilakukannya.
   “Dari tiga orang yang diamankan, petugas menahan satu orang yang diduga sebagai mucikari,” kata Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar di Tulungagung.
   Sedangkan oknum pemandu lagu yang merangkap sebagai wanita pekerja seks, Fin (24) serta pengguna jasa prostitusi berinisial Rn (38) ikut diperiksa dalam kapasitas sebagai saksi.
   Polisi mengunakan uang tunai hasil transaksi sebesar Rp2 juta, tujuh lembar print out percakapan whatsapp, selembar nota pembayaran kamar hotel Narita.
Selain itu juga satu ponsel i-phone, dua buah ponsel Oppo A-37, sebuah ponsel Samsung, baju atasan warna cokelat, dan sebuah BH warna hitam sebagai barang bukti.
Tofik mengatakan, terbongkarnya kasus prostitusi terselubung tersebut bermula dari informasi yang diterima petugas bahwa di salah satu kafe Tulungagung ada pemandu lagu yang bisa diboking.
Diduga, praktek tersebut juga sudah terjadi sejak lama.
   Bahkan, ada mucikari yang bertugas khusus menawari pemandu-pemandu lagu untuk bisa dibooking.
“Dari bahan keterangan tersebut petugas lantas melakukan penyelidikan,” katanya.
   Dijelaskan, petugas sempat dua hari melakukan penyelidikan.
   “Sampai akhirnya anggota yang melakukan ‘lidik’ di lapangan mendapat informasi bahwa ada seorang pemandu lagu, mucikari, dan seorang pria calon pengguna jasa prostitusi menuju Hotel Narita,” kata Tofik Sukendar.
Saat itu juga pasangan prostitusi itu ditangkap.
     Saat itu mucikari tidak ada di hotel. Petugas lalu melacak jejak dan keberadaannya.
Melalui keterangan Fn dan Rn, akhirnya mucikari alias Mami Ek tersebut berhasil ditangkap di sebuah rumah kos Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung.
“Setelah itu ketiganya langsung diamankan ke Mapolres untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Tofik.
Kapolres Tofik mengatakan Mami Ek memenuhi unsur pasal 296 KUHP yakni barang siapa yang pencahariannya atau kebiasaannya dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain.
Tersangka juga dijerat dengan pasal 506 KUHP yakni barang siapa sebagai mucikari mengambil untung dari pelacuran perempuan.
  “Dari uang Rp2 juta itu, Mami Ek mengaku mendapatkan bagian Rp300 ribu,” katanya.
Tofik melanjutkan, meski ancaman hukuman maksimal kedua pasal tersebut selama satu tahun empat bulan namun pihaknya tetap menahan Mami Ek.
“Sebab dalam pasal 21 ayat (4) KUHP terdapat pasal pengecualian yang menyatakan meski ancaman hukuman di bawah lima tahun namun dapat dilakukan penahanan,” katanya.(anjas)

Leave a Reply