Polisi Dalami Penyebab Karhutla Di Bengkalis

     Bengkalis, jurnalsumatra.com  – Kepolisian Resor (Polres) Bengkalis Riau, saat ini masih mendalami penyebab terjadinya kebakaran lahan dan hutan (Karhutla)  dalam beberapa hari terakhir di daerah setempat.
“Masih kami dalami penyebabnya dan perlu proses pembuktian, sementara belum ada pemilik yang diamankan dan penyelidikan saat ini sedang berjalan terhadap terjadinya karhutla di Kecamatan Mandau dan Pinggir,” ujar Kapolres Bengkalis AKBP Yusuf Rahmanto di Bengkalis, Kamis.
Dikatakan Kapolres, titik api yang ada saat ini hanya di tiga lokasi saja dan upaya pemadaman terus dilakukan bersama Badan Penanggulan Bencana Alam, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan TNI.
Dijelaskan, lahan yang terbakar saat ini berstruktur tanah gambut, ditambah akses terhadap lokasi sulit dijangkau oleh kendaraan yang membawa peralatan untuk memadamkan api di lokasi yang terbakar.
“Pemadamannya memang agak ekstra dilakukan, karena akses yang sulit dijangkau ditambah sumber air yang jauh. Akan tetapi kita terus berupaya secara bersama-sama untuk pemadaman,” kata Kapolres.
Selain itu, Polres Bengkalis bersama Polsek yang ada selama ini terus gencar melakukan sosialisasi mencegah karhutla dan larangan membakar saat membuka kebun, bahkan sampai kepada ancaman pidana bagi masyarakat yang sengaja melakukan pembakaran saat membuka lahan.

“Kepada para pelaku dengan sengaja melakukan pembakaran lahan tentu akan kita tindak sesuai aturan perundang-undangan yang ada saat ini,” tegas Kapolres.
Mantan Kapolres Rohul juga menegaskan adanya undang-undang yang mengatur persoalan itu. Pertama, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Pasal 78 ayat (3) menyebut, pelaku pembakaran hutan dikenakan sanksi kurungan 15 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar.
Adapun, pada Pasal 78 ayat (4) menyebut, pelaku pembakaran hutan dikenakan sanksi kurungan 5 tahun dan denda maksimal sebesar Rp1,5 miliar.
Kedua, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan. Pasal 8 ayat (1) menyebutkan, seseorang yang sengaja membuka lahan dengan cara dibakar dikenakan sanksi kurungan 10 tahun dan denda maksimal Rp10 miliar.
Ketiga, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup.
“Pada Pasal 108 disebut seseorang yang sengaja membuka lahan dengan cara dibakar dikenakan sanksi minimal 3 tahun dan maksimal 10 tahun serta denda maksimal Rp10 miliar,” ujar Kapolres.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − two =