Polisi Didesak Usut Kekerasan Deklarasi Makassar

   Jakarta, jurnalsumatra.com – Para pimpinan kelompok Cipayung mendesak polisi untuk segera menangkap penanggung jawab kegiatan deklarasi #2019GantiPresiden di Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu, karena kegiatan tersebut telah menyebabkan seorang kader kelompok Cipayung mengalami luka.
Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (23/8) malam, menyebutkan empat organisasi yang tergabung dalam kelompok Cipayung, yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mereka menyatakan mengecam keras kasus pemukulan terhadap anggota PMII cabang Makassar bernama Muhadir.
Ketua ormas Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Didin Indra Saputra mengatakan bahwa tindakan represif massa gerakan #2019GantiPresiden terhadap Muhadir sangat meresahkan bila tidak diproses hukum.

“Sangat disayangkan terjadi tindakan represif oleh massa gerakan #2019GantiPresiden terhadap salah satu kader PMII cabang Makassar,” kata Didin.
Menurut dia, maraknya kampanye sebelum waktu yang ditentukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah meresahkan karena menimbulkan perpecahan di sejumlah daerah.
Sementara itu, Ketua PMII cabang Makassar Ashari Bahar mengatakan bahwa acara deklarasi tersebut sebenarnya tidak diizinkan polisi. Namun, acara tetap digelar.
Ashari pun khawatir dengan tujuan dari deklarasi tersebut. “Di acara tersebut, banyak tokoh yang berniat mengubah sistem negara menjadi sistem khilafah. Jika niat mereka tercapai, kemajemukan bangsa akan hancur lebur,” kata Ashari.
Sebelumnya, Deklarasi #2019GantiPresiden di Monumen Mandala, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (12/8).
Dalam deklarasi tersebut, berkumpul massa yang memakai kaus berwarna putih bertuliskan #2019GantiPresiden. Ustazah Neno Warisman yang hadir dalam deklarasi tersebut ikut berpidato membakar semangat para sukarelawan.(anjas)

Leave a Reply