Politik Dinasti dan Pudarnya Pesona Demokrasi

Palembang, jurnalsumatra.com – Jelang Pemilukada 2018 muncul isu menarik yaitu politik dinasti, hal ini dipicu oleh turunnya Surat Tugas dan rekomendasi DPP Partai Golkar atas nama Dodi Reza Alex Noerdin yang tak lain adalah putra Gubernur petahana, untuk maju sebagai Calon Gubernur Sumatera Selatan 2018-2023. Berbagai ragam tanggapan muncul, ada yang mendukung, apatis dan ada juga yang menolak rekomendasi Partai Golkar tersebut karena dianggap akan menciptakan dinasti politik di sumatera selatan.

Menanggapi isu dinasti politik, pengamat KAMPUS Sumsel (Kajian Media dan Politik Untuk Sumsel), Tina Deborah mengatakan ada tiga macam model dinasti politik. Dalam dinasti politik ini, kekuasaan menggumpal pada satu atau dua keluarga saja, ungkap Tina (15/11/2017) di Palembang.

Model pertama seperti arisan keluarga. Model ini, kata Tina, satu keluarga memimpin suatu daerah tanpa jeda. Ini seperti regenerasi.  Model kedua adalah dinasti politik lintas kamar dengan cabang kekuasaan. Misalnya, kata Tina,  sang kakak menjadi bupati daerah tertentu, sang adik Ketua DPRD, dan anggota keluarganya yang lain memegang posisi Kepala Dinas yang strategis.

Sementara model dinasti politik yang ketiga, lanjut Tina adalah model lintas daerah. Satu keluarga memegang jabatanpenting di berbagai daerah yang berbeda.

“Alex Noerdin dan keluarganya menjadi sasaran tembak, yang diteriakan oleh pendukung calon Gubernur Sumatera Selatan lain pada Pemilukada 2018, yang bisa jadi hanya mencari alasan dan titik kelemahan dari  seorang Dodi Reza, Perdebatannya bukan pada substansi visi atau program yang ditawarkan,” ujar Tina.

Politik Dinasti di Sumsel menurut Tina sesunguhnya bukan hanya ada pada keluarga Alex Noerdin melainkan pada keluarga lain, sebut saja misalnya; Mantan Bupati 2 periode Ogan Ilir, Mawardi Yahya berhasil mendirikan dinastimiliknya walaupun tidak bertahan lama. Ahmad Wazir Nofiadi, bupati Ogan Ilir yang tertangkap oleh kasus narkoba adalah anak kandung dari Mawardi Yahya. Meskipun hanya menjabat satu bulan, Ovi, panggilan akrab Ahmad Wazir Nofiadi, berhasil menjabat sebagai Bupati melanjutkan kekuasaan Ayahnya. Selain itu ada Zaitun Mawardi Yahya yang juga dicoba didorong untuk maju pada Pilkada OKI 2013, tentu masih ada Ridho Yahya, adik dari Mawardi Yahya adalah Walikota Prabumulih dan sekarang mencalonkan diri lagi untuk periode keduanya.

“Dinasti yang dibangun oleh Mawardi Yahya jauh lebih sempurna dibandingkan Alex Noerdin, karena bukan hanya anaknya yang didorong untuk berkuasa, tapi ada saudara dan kroninya,” tandas Tina.

Selanjutnya menurut Tina adalah Herman Deru. Mantan Bupati OKU Timur 2 periode ini mencalonkan anaknya, Percha Leanpuri pada Pemilukada Bupati OKU 2015. Setelah menjadi anggotaDPD RI perwakilan Sumatera Selatan pada tahun 2009 -2014 dan 2014 – 2019, Percha gagal meraih kursi bupati karena kalah bersaing dengan calon petahana.

Namun, dinasti yang dibangun oleh Herman Deru tidak hanya melalui Anaknya. Dua adiknya Bertu Merlas dan Meilinda merupakan anggota DPR RI dan DPRD Provinsi yang terpilih  dari daerah yang dipimpin oleh Herman Deru. Bertu Merlas anggota DPR RI dari Fraksi PKB yang namanya pernah disebut dipersidangan suap Bakamla ini berhasil mendulang suara dari daerah atau kabupaten dimana sang kakak berkuasa, demikian juga Meilinda yang sukses menjadi legislator Partai Nasdem di DPRD Provinsi Sumsel dengan daerah pemilihan OKU Timur juga.

“Jadi pola dinasti yang coba dibangun oleh Herman Deru cukup justru lebih kuat indikatornya,” tutup Tina.

Politik dinasti menunjukkan dan menggambarkan kualitas demokrasi Sumatera Selatan sesungguhnya. Trah Alex Noerdin berada pada kualifikasi model yang pertama, sementara Mawardi Yahya lebih komplit lagi yaitu 3 role model dinasti politik ada semua, Tambah Tina

Sementara Trah politik Herman Deru setali tiga uang dengan Mawardi Yahya, tiga role model dinasti ini juga ada pada keluarga ini.(relis Tina Debora hastinadebora@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + 10 =