PP Muhammadiyah Gelar Milad ke-105 Berbalut Budaya

YOGYAKARTA, jurnalsumatra.com — Bertepatan dengan Milad Muhammadiyah ke-105 yang dalam hitungan masehi jatuh pada tanggal 18 November 2017, Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan mengadakan Muhammadiyah Award.

Penghargaan itu akan diberikan kepada orang-orang yang memiliki jasa besar bagi persyarikatan Muhammadiyah.

Dalam milad bertemakan Muhammadiyah merekat kebersamaan, Jum’at, 17 November 2017 malam di Pagelaran Kraton Yogyakarta, anggota PP Muhammadiyah akan mengenakan pakaian adat Jawa dan perwakilan wilayah Muhammadiyah dari berbagai daerah akan memakai baju adat daerahnya masing-masing.

Sebagaimana dikatakan Dr H Haedar Nashir, MSi, Ketua Umum PP Muhammadiyah, kepada wartawan di aula PP Muhammadiyah Jl Cik Ditiro 23 Yogyakarta, Kamis (15/11), tema dari merekatkan kebersamaan itu, memiliki makna bahwa Indonesia yang lahir dari hasil kesepakatan para pendahulu, harus terus dipelihara agar bisa menjadi negara yang bersatu.

“Konsep adat seperti itu, tentu menjadi salah satu upaya perekatan yang menjadi satu kesatuan yang harmoni,” tandas Haedar Nashir yang didampingi Dr H Agung Danarto, MAg (Sekretaris PP Muhammadiyah), Drs H Marpuji Ali, MSi (Bendahara PP Muhammadiyah), H Herry Zudianto, SE, Akt, MM dan Ahmad Syauqi Soeratno dari panitia penyelenggara.

Haedar Nashir mengatakan, milad Muhammadiyah kali ini konsepnya kebudayaan dan diadakan di lingkungan Kraton Yogyakarta.

“Muhammadiyah sudah menjadi bagian dari Yogyakarta, lahir di Yogyakarta dan ibukota Muhammadiyah juga di Yogyakarta. Dan sejak dulu, telah banyak bekerjasama dengan kraton Yogyakarta,” kata Haedar Nashir yang menambahkan salah satu pilar penting di Yogyakarta adalah Kraton.

Bagi Haedar, secara natural Muhammadiyah punya sensitifitas terhadap kebudayaan. “Dan, Muhammadiyah ingin menunjukkan keberadaannya kalau tidak anti dan benci terhadap budaya,” tandas Haedar.

Selama ini, orang bias tentang Muhammadiyah yang terlalu modernis dan meninggalkan kebudayaan. Tapi sejak 2002, Muhammadiyah berdakwah melalui pendekatan dakwah kultural.

Sementara itu, Agung Danarto, menambahkan, kali pertama penghargaan akan diberikan kepada Sri Sultan HB X. Selain itu, diberikan juga kepada H Roemani, salah satu warga biasa yang mempunyai dedikasi dan kedermawanan dalam membangun RS Muhammadiyah. Juga kepada Prof Mitsuo Nakamura, peneliti asal Jepang, yang telah banyak meneliti perkembangan Islam, khususnya Muhammadiyah.

Dalam rentang usianya yang sudah lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah melalui dan turut serta merasakan dinamika kehidupan berbangsa. “Kiprah Muhammadiyah di dalam membangun dan mengisi ruang kehidupan kebangsaan yang berlandaskan bingkai kebersamaan atas dasar prinsip toleransi dan kebhinnekaan, tidak perlu diragukan,” kata Agung Danarto.

Menurut Agung, harus ada upaya seluruh masyarakat untuk mewujudkan Indonesia bersatu. “Bagaimana agar upaya itu bukan hanya berujung pada slogan, melainkan juga realitas,” tandas Agung Danarto.

Sebagai salah satu elemen masyarakat, Muhammadiyah mencoba membina rekatan, yang mana saat ini sedang memudar di masyarakat karena konflik sosial.

Di sisi lain, Muhammadiyah dan Kraton Yogyakarta memiliki sejarah yang panjang. Karena, Muhammadiyah sejak awal bisa dikatakan disupport oleh Keraton. “Itu nampak ketika KH Ahmad Dahlan di kirim ke Timur Tengah,” papar Agung Danarto.

Dalam acara milad itu, PP Muhammadiyah mengundang berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh bangsa, tokoh politik dan khususnya warga persyarikatan Muhammadiyah. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 8 =