Pramono Jelaskan Jokowi Jadi Imam Dan Makmum

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjelaskan tentang Presiden Joko Widodo yang dipertanyakan sempat menjadi imam dan makmum saat menunaikan sholat di sebuah masjid di Kabul, Afghanistan, saat kunjungan kenegaraannya ke negara itu.
Pramono Anung di Kantor Presiden Jakarta, Rabu menyatakan perlu menjelaskan hal itu agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi terkait aktivitas Presiden Jokowi di Afghanistan.
“Setelah selesai bilateral meeting, adalah waktu masuk shalat dzuhur. Presiden kemudian diajak oleh Presiden Afghanistan dan para menteri semuanya ke tempat lokasi shalat dzuhur. Sebelum shalat dzuhur dilakukan, sebelum mengambil air wudhu, Presiden mendapatkan kehormatan untuk menerima pakaian yang dikenakan Presiden Afghanistan pada saat shalat dzuhur. Dan Presiden juga memberikan topi/kopiah yang disiapkan dari Jakarta yang ukurannya sesuai dengan ukuran kepala Presiden Afghanistan,” kata Pramono.
Dan setelah itu kata dia, Presiden Jokowi mengambil air wudhu dan menunaikan shalat bersama.
Pada saat shalat pertama tampak dalam sebuah foto Presiden Jokowi menjadi makmum.

“Saat itu melakukan shalat dzuhur, yang menjadi imam adalah imam besar Afghanistan. Setelah selesai salam, shalat dzuhur selesai, Presiden meminta izin kepada Presiden Afghanistan dan imam besar untuk melakukan shalat jamak ashar takdim,” katanya.
Ketika itulah, kata Pramono, Presiden Jokowi sempat mempersilakan jamaah yang ada di tempat itu termasuk Dubes dan tuan rumah untuk menjadi imam shalat.
“Kemudian, Presiden Afghanistan, imam besar, dan semuanya, mempersilakanlah Presiden untuk menjadi imam. Jadi Presiden memimpin imam untuk shalat jamak ashar. Dua rakaat. Setelah itu, sampai dengan selesai shalat,” katanya.
Pramono menjelaskan fakta yang sesungguhnya yakni ada dua peristiwa, satu shalat duhur yang imamnya adalah imam besar Afghanistan, sementara peristiwa yang lain adalah shalat jamak ashar yang imamnya adalah Presiden Jokowi.
“Dan ini tidak ada hubungannya dengan urusan pencitraan, enggak ada. Dan Presiden terus terang, saya termasuk yang sering mengikuti, di manapun kalau bisa shalat, beliau pasti shalat, kalau bisa dijamak biasanya untuk ashar karena enggak mungkin. Karena memang pada waktu itu sudah tidak mungkin untuk menunggu shalat ashar sehingga dijamaklah oleh beliau,” katanya.(anjas)

Leave a Reply