Prihatin ASN Kotim Enggan Beli Beras Lokal

    Sampit, Kalteng, juranlsumatra.com – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, I Made Dikantara mengaku prihatin banyak aparatur sipil negara enggan  membeli beras lokal padahal tujuannya membantu meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
“Orang luar daerah saja mengakui kualitas beras kita, kenapa kita tidak? Kalau tidak cinta produk lokal, berarti tidak mencintai Kotawaringin Timur. Membeli beras lokal, berarti kita telah membantu meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Made Dikantara di Sampit, Kamis.
Kotawaringin Timur memiliki beras khas lokal yakni jenis siam epang. Padi siam epang sudah lulus uji varietas unggul nasional oleh Kementerian Pertanian. Ini menunjukkan kualitas siam epang sangat bagus dan memenuhi standar kualitas nasional.
Pengakuan ini seharusnya membuat seluruh masyarakat Kotawaringin Timur bangga dan makin mencintai beras lokal. Terlebih bagi aparatur sipil negara dan perusahaan besar swasta yang sudah seharusnya memiliki rasa tanggung  jawab moral membantu petani lokal dengan cara membeli beras lokal.
Menurut Made Dikantara, kontribusi aparatur sipil negara tidak terlalu besar, hanya sekitar 3.000 hingga 5.000 ton jika semua pegawai ikut membeli beras lokal. Namun dampak lain yang diharapkan adalah teladan cinta beras lokal yang bisa ditiru oleh masyarakat luas sehingga penyerapan beras lokal bisa meningkat tajam.

    “Makanya saya bingung juga kalau ada ASN yang enggan membantu membeli beras lokal. Pak bupati sendiri sampai berulang kali meminta ASN agar membantu membeli beras lokal. Ini upaya nyata kita membantu petani dan menekan angka kemiskinan,” kata Made.
Ketua Pemuda Tani Kotawaringin Timur, Abdur Rasid mengakui, partisipasi aparatur sipil negara membantu membeli beras siam epang yang mereka pasarkan, masih cukup rendah. Dia mengajak seluruh pegawai dan masyarakat untuk membantu membeli beras lokal.
“Kita pasti membeli beras karena itu kebutuhan pokok. Bedanya, kalau kita membeli beras luar, hasilnya untuk luar daerah, sedangkan kalau kita membeli beras lokal maka kita sekaligus telah membantu memberi penghasilan kepada petani di daerah kita,” kata Rasid.
Pemuda Tani Kotawaringin Timur membeli gabah petani lokal dengan harga Rp5000 /kg, sehingga menguntungkan petani karena jauh di atas harga beli oleh tengkulak. Selanjutnya gabah itu mereka gilir menjadi beras dan dibungkus dengan kemasan bagus yang mereka beri merek “Jelawat” dan dijual Rp55.000 per sak isi lima kilogram.
Jika semua pihak membantu dengan membeli beras lokal, Rasid yakin kesejahteraan petani akan terus meningkat. Ini akan berdampak langsung terhadap tekad pemerintah daerah untuk terus menekan angka kemiskinan.(anjas)

Leave a Reply