Produksi Garam Probolinggo Berhenti Memasuki Musim Hujan

     Probolinggo, jurnalsumatra.com – Produksi garam krosok di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, berhenti saat memasuki musim hujan dan turunnya hujan setiap hari merupakan fenomena alam yang menandakan berakhirnya masa produksi garam di wilayah tersebut.
Ketua Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Kabupaten Probolinggo Buhar di Probolinggo, Jumat, mengatakan banyak petani yang menghentikan produksinya dan hasil panen garam beberapa hari terakhir dipastikan masuk dalam gudang.
“Beberapa wilayah sentra garam telah berhenti berproduksi seperti di Kecamatan Gending yang sudah berhenti total karena kristalisasi garam memerlukan cahaya matahari yang sulit didapatkan saat musim hujan,” katanya.
Menurutnya sebagian petani lebih memilih menyimpan hasil panen garamnya di gudang daripada menjualnya karena mereka menjaga persediaan garamnya masing-masing selama musim hujan nanti.
“Ketika musim hujan, petani sudah tidak bisa lagi memproduksi garam, sehingga mereka lebih mengandalkan stok garam yang disimpan dalam gudang,” tuturnya.
Saat panen beberapa pekan lalu, lanjut dia, petani hanya menjual garamnya maksimal 50 persen dari total garam yang dipanen, bahkan ada petani yang menjual hanya 25 persen saja dan sisanya disimpan di gudang untuk menjaga ketersediaan garam selama musim hujan.
“Saya menjual produksi garam dari hasil panen sekitar 40 persen dan sebanyak 60 persen masuk gudang. Saat ini di gudang terdapat garam sekitar 250 ton dan jumlah itu untuk penjualan sampai Mei 2018,” ujarnya.

     Buhar menjelaskan jumlah petani garam di Kabupaten Probolinggo sebanyak 484 orang yang tergabung dalam 56 kelompok garam dan rata-rata petani garam memiliki gudang berkapasitas antara 50 ton-300 ton.
“Penyimpanan garam di gudang juga upaya kami mengontrol harga garam, agar tidak sampai anjlok dan alhamdulillah harga garam saat ini sudah mencapai Rp2.500 per kilogram,” katanya.
Sementara Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Wahid Noor Aziz mengatakan sebagian besar wilayah sentra garam di Probolinggo memang sudah berhenti berproduksi, namun tidak merata.
“Ada beberapa yang masih belum berhenti total seperti di Desa Sidopekso, Kecamatan Kraksaan karena masih ada petani yang panen, meskipun sehari sebelumnya turun hujan di wilayah setempat,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Perikanan, produksi garam di Kabupaten Probolinggo per 31 Oktober 2017 sudah mencapai 11.959 ton yang merupakan hasil produksi dari tambak garam seluas 315,3 hektare yang tersebar di 11 desa di empat kecamatan di wilayah setempat.
Produksi garam petani tersebut melebihi angka kebutuhan garam di Kabupaten Probolinggo yakni sebanyak 5.849 ton per tahun, sehingga sebagian garam dikirim ke luar daerah.(anjas)

Leave a Reply