Puluhan Calon Haji Mataram Belum Melunasi BPIH

    Mataram, jurnalsumatra.com – Puluhan calon haji di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, hingga saat ini belum melunasi biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) sementara tanggal jatuh tempo pelunasan sudah dekat.
“Pelunasan BPIH tahap kedua berakhir Jumat (25/5), sementara yang belum membayar BPIH sebanyak 43 orang dari sisa 56 belum melunasi di tahap pertama,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mataram H Burhanul Islam di Mataram, Selasa.
Dikatakan, dari total estimasi calon haji tahun 2018 tercatat 774 orang, sebanyak 718 orang telah melunasi BPIH pada tahap pertama sedangkan 56 orang belum dapat melunasi karena berbagai faktor, antara lain gagal sistem, meninggal dan ada juga yang menunda keberangkatannya dengan alasan sakit dan lainnya.
Sebanyak 56 orang itulah diberikan kesempatan pelunasan tahap kedua dengan rincian, empat orang gagal melunasi di tahap pertama karena gagal sistem, 13 orang sudah berhaji, 11 orang penggabungan suami/istri, empat orang penggabungan anak dengan orang tua dan 19 orang lanjut usia (lansia) serta 5 orang pendamping jemaah lansia.
“Dari 56 yang berkesempatan melunasi tahap kedua itu, hingga Senin (21/5), calon haji yang telah melunasi sebanyak 13 orang,” sebutnya.

    Terkait dengan itu, saat ini pihaknya sudah menghubungi sebanyak 43 orang yang belum melakukan pelunasan agar dapat memanfaatkan kesempatan pelunasan tahap kedua.
“Apabila jemaah tidak melunasi sampai batas akhir pembayaran tahap kedua, maka secara otomatis jemaah dianggap mengundurkan diri,” katanya.
Dengan demikian, kuota mereka akan tergantikan oleh jemaah cadangan sebanyak 65 orang sesuai nomor porsi.
Sementara menyinggung tentang regulasi penggantian jemaah yang meninggal oleh ahli waris setelah melunasi BPIH, Burhanul mengatakan, regulasi tersebut sudah rampung.
Namun sejauh ini untuk calon haji yang telah melunasi BPIH belum ada yang meninggal. “Kalau di daerah lain kemungkinan sudah ada,” katanya.
Sejauh ini, katanya, pihaknya belum bisa menjelaskan secara rinci terhadap kebijakan dalam regulasi tersebut karena dia belum membaca secara tuntas poin-poin di dalamnya.
Burhanul mengakui, belum tahu persis seperti apa mekanismenya jika nanti ada jemaah yang meninggal H-3 atau H-1 pemberangkatan, apa bisa ahli waris penggantinya menyelesaikan berbagai administrasi dan bagaimana dengan kesiapan fisik serta mental dari pengganti.
“Pasalnya, untuk berangkat haji tidak bisa instan perlu persiapan matang agar dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan benar. Yang paling berpotensi mengganti adalah calon cadangan sebab mereka sudah mengikuti berbagai tahapan persiapan termasuk melunasi BPIH,” katanya.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + twelve =