Puskes Haji: Petugas Hadapi Kendala Cuaca Saudi

    Jakarta, jurnalsumatra.com –  Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Eka Jusup Singka mengatakan petugas haji mengalami kendala untuk pelayanan haji karena menghadapi cuaca yang panas di Arab Saudi maka petugas perlu menjaga kebugarannya sehingga bisa memberi layanan prima.
Eka di Jakarta, Sabtu, mengatakan suhu di Arab Saudi pada musim haji 2018 mencapai 50 derajat Celcius karena sedang ada di musim panas.
Suhu itu tergolong tinggi jika dibandingkan suhu di Indonesia yang saat ini ada di kisaran 30 derajat Celcius.
Dengan temperatur itu petugas haji, termasuk jamaah haji, dapat terkena gangguan kesehatan “heatstroke” atau sengatan panas.
“Heat stroke” merupakan kondisi darurat seseorang yang naik sangat drastis akibat terpapar suhu tinggi dan  cahaya matahari dalam waktu yang lama.
Gejala umum yang menandai serangan sengatan panas seperti mual, kejang, kebingungan, disorientasi dan kadang-kadang kehilangan kesadaran atau koma.
Dalam beberapa kasus sengatan panas memicu komplikasi mematikan atau menyebabkan kerusakan pada otak dan organ internal lainnya.
Untuk itu, Eka mengimbau jamaah haji dan petugas untuk banyak mengonsumsi air putih agar terhindar dari “heatstroke”. Alasannya, kondisi kekurangan cairan dapat membuat seseorang mudah terkena sengatan panas.

Dengan air putih yang cukup, kata dia, maka akan menekan kemungkinan seseorang terkena “heat stroke”.
Selain itu, dia meminta jamaah dan petugas menghindari paparan matahari langsung saat beraktivitas di Arab Saudi. Kecuali saat menggunakan ihram, jamaah dan petugas dapat menggunakan penutup kepala atau sejenisnya untuk menghindarkan kontak langsung dengan cahaya Matahari.
Eka berharap PPIH Kesehatan dapat menjalankan tugas dengan penuh dedikasi karena menyangkut kesehatan jamaah haji Indonesia di luar negeri.
Dedikasi, kata dia, sangat penting seiring banyaknya jamaah berisiko kesehatan tinggi dengan 63 persen dari total jamaah haji Indonesia.
Dia mengatakan PPIH dari Kementerian Kesehatan terdiri dari empat tim yaitu tim manajerial, tim promotif preventif (TPP), tim kuratif rehabilitatif (TKR) dan tim gerak cepat (TGC).
Tim manajerial bertugas untuk mengkoordinasikan persiapan dan pelaksanaan kegiatan dalam penyelenggaraan kesehatan haji.
Selanjutnya tim promotif preventif memiliki tugas memberikan pelayanan peningkatan kesehatan (promosi) dan pencegahan kesehatan dalam penyelenggaraan kesehatan haji.
Kemudian tim kuratif rehabilitatif ditugaskan memberikan pelayanan kesehatan bagi jamaah haji yang sakit di pos kesehatan dan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI)
Terakhir tim gerak cepat diberi amanah melakukan evakuasi atau pertolongan dalam rangka perlindungan kesehatan haji.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + fourteen =