Ratusan Masa Demo Pemkab Lahat

Lahat, jurnalsumatra.com –  Ratusan masa yang tergabung dari Persatuan Pedagang Pasar Tradisional Modern Selero (PPPTMS) Lahat, pemilik lapak di PTM Selero, yang didominasi para ibu ibu ini, pada Kamis (09/07/2020), menggelar aksi demo ke Pemkab Lahat.

Aksi protes yang diketuai Dodo Arman itu, cukup menyedot perhatian masyarakat Kabupaten Lahat. dikarena, para pendemo didominasi oleh ibu ibu. Saat orasi disampaikan dihalaman Pemkab Lahat, tak pelak langsung dipanggil masuk keruangan Asisten II Pemkab Lahat, guna membahas persoalan Lapak yang ada di PTM Selero.

Akibat dari aksi itu, membuat kondisi Pasar Tradisional Moderen Selero Lahat mencekam dan hanya sebagian para pedagang yang berjualan.

Dalam orasinya Dodo Arman menegaskan, melihat dari perjanjian kerjasama antara Pemkab Lahat dengan PT Bima Putra Abadi Citranusa No 10/pksi/2005 dan No 10/bpac/2005 tentang penggelolaan PTM Selero berikut bentuk bangunan yang ada, harus menutup dan menghentikan segala aktifitas yang ada.

Mengambil alih pengelolaan Pasar dan Parkir dikawasan Pasar PTM Selero Lahat untuk tercapainya PAD Lahat, karena telah gugurnya hak kepemilikan saudara H.Baharudin SE MM atas tanah berikut berbagai bentuk bangunan, ruko dan kios, karena sudah habis terjual kepada masyarakat. Sehingga, secara otomatis prasarana, sarana, utilitas umum berpindah menjadi hak warga.

Membebaskan, biaya parkir bagi pemilik ruko, kios, penghuni, tamu penghuni, pedagang, pekerja, tukang ojek, tukang becak, dikawasan Pasar PTM Selero. Membongkar palang parkir otomatis yang dilakukan yang mengaku pihak penggelola Pasar PTM Selero karena tidak efektif dan efisien. Menangkap dan mengadili seluruh oknum yang mengaku sebagai pemilik dan penggelola PTM Selero.

Karena diduga telah melakukan pungli kepada pemilik ruko, kios, pedagang, tukang ojek, para sopir yang membongkar muat barang keluar masuk dikawasan pasar PTM Selero Lahat serta diduga telah menyalahgunakan fasilitas umum yang ada dikawasan PTM Selero Lahat.

Mengambil alih seluruh Prasarana, sarana, dan utilitas umum yang ada di PTM Selero Lahat kepada Pemerintah Kabupaten Lahat. Karena dinilai minimnya kenyamanan pedagang dan pengunjung serta cendrung dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan pribadi dan berujung diduga merugikan pemilik ruko, kios, pedagang, tukang ojek dikawasan tersebut.

Orasi yang dituding oleh Dodo Arman dibantah keras oleh PT Buma Putra Abadi Nusa selaku pengelola diwakili Dirhamudin didampingi PH nya Firnanda,SH CLA menyampaikan, kondisi PTM Selero Lahat sangat memprihatinkan membuat pihak pengelola berencana melakukan Revitalisasi.

“Nah, dengan adanya tentangan dari sebagian oknum pedagang yang tergabung dalam forum PTM Serelo Lahat diklaim sebagai hal yang wajar bahkan pihak pengelola membuka diri untuk melakukan koordinasi dan tuntutan hukum bagi yang merasa dirugikan,” tantangnya.

Terus terang, ditambahkan Firnanda, wacana revitalisasi PTM Serelo bertujuan untuk memberikan kenyaman bagi masyarakat dan pedagang untuk beraktivitas. Apalagi sejak tahun 2005 PTM Serelo belum sekalipun melakukan renovasi bangunan sehingga kondisi yang kumuh, bau limbah dan atap bisa membahaya kan para pengunjung dan pembeli.

“PTM Serelo Lahat adalah milik swasta dan menyetor pajak ke Pemkab Lahat. Jika ada oknum pedagang atau forum yang keberatan dengan wacana revitalisasi silakan berkoordinasi dengan pengelola agar dapat dicarikan solusinya, bahkan sebelumnya pihak pengelola telah melakukan sosialisasi secara persuatif kepada pedagang terkait wacana yang ada,”ujarnya.

Dirhan menjelaskan, untuk para pedagang dan pemilik ruko sebelumnya memang ada penarikan retribusi resmi sedangkan bagi yang lapaknya memiliki sertifikat tetap dikenakan biaya kebersihan dan keamanan sesuai aturan yang berlaku.

“kita tidak pernah melakukan pungli dan selama ini tidak pernah ada gejolak maupun keluhan meskipun akhir-akhir ini terdengar ada protes dari beberapa pedagang,”imbuhnya.

Sementara itu, Agus (45) salah satu warga Lahat menuturkan, sangat menyambut baik wacana pihak pengelola PTM Serelo Lahat untuk melakukan revitalisasi. Apalagi kondisi pasar yang mulai kumuh dan berbau tidak sedap sangat membahayakan pembeli dan pedagang khususnya selama musim pandemi Corona.

“Inikan pasar milik swasta jadi harus nyaman agar terlihat Cahaya nya. Lihat saja atap lapak yang ada sangat rendah sehingga bagi pengunjung yang berbadan tinggi bisa tertusuk seng jika tidak menunduk. Belum lagi darah ayam atau limbah air ikan yang menggenangi badan jalan menimbulkan aroma yang tidak sedap,” urai Agus. (Din)