Ribuan Penari Meriahkan HUT Ke-9 Mangupura

     Badung, Bali, jurnalsumatra.com – Sebanyak 2.621 penari yang merupakan ibu-ibu PKK dari seluruh wilayah di Badung, Bali menampilkan Tari Pendet Kolosal untuk memeriahkan puncak perayaan HUT ke-9 Mangupura sebagai ibu kota Kabupaten Badung.
“Mangupura memiliki arti, Mangu artinya menawan hati, Pura berarti tempat. Jadi Mangupura adalah tempat menawan hati. Melalui peringatan HUT ini semoga Mangupura dapat memberikan tempat bagi masyarakat yang menawan hati,” ujar Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, di Mangupura, Jumat.
Sejumlah kegiatan telah diselenggarakan di berbagai wilayah di Badung untuk memeriahkan peringatan HUT Mangupura tersebut. Bahkan, Tari pendet kolosal itu berhasil mencetak Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan penari terbanyak.
Bupati Giri Prasta mengatakan, peringatan HUT ke-9 Mangupura mengambil “tagline” żMangupraja Angelus Bhuanaż yang berarti, Badung berbagi dari Badung untuk Bali.
“Tiga tahun saya menjabat sebagai Bupati Badung, saya bersama Wakil Bupati Ketut Suiasa telah mampu menjalin tali silahturahmi, bersinergi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Badung,” katanya.
Ia menjelaskan, sejak dirinya dilantik sebagai Bupati, sudah ada peningkatan APBD. Peningkatan itu menurutnya merupakan hasil kerja bersama. Sehingga setiap tahun struktur APBD Badung terus meningkat.
Melalui peringatan HUT Mangupura itu, ia juga mengajak seluruh masyarakat Badung dan Bali senantiasa meningkatan rasa pesaudaraan “menyama braya segilik seguluk salulung sabayantaka”.
“Saya mengajak masyarakat semua, ayo ciptakan gairah baru, yang baik diteruskan dan yang jelek ditinggalkan. Pemimpin harus mampu mempersatukan masyarakat. Dan hari ini kami bersatu membangun Jagat Badung,ż kata Giri Prasta.

   Mengenai program pemerintahan, Bupati Giri Prasta juga tak lupa menyampaikan terima kasih kepada DPRD Badung. Pasalnya, sejak dirinya dilantik sebagai Bupati, hubungan lembaga dewan dengan eksekutif selalu bersatu.
“Bahkan ada lima program prioritas pembangunan yang selalu didukung oleh parlemen, mulai dari program sandang, pangan dan papan, program kesehatan, pendidikan, jaminan sosial dan tenaga kerja, program adat, agama, seni budaya dan pariwisata,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam menjalankan roda pemerintahan, ia mengaku menggunakan filosofi “Panca Pandawa”. Dimana sebagai peran Bima, ia harus berani tegas menjalankan aturan. Kemanusiaan saat sebagai Arjuna harus tepat sasaran membantu masyarakat,.
Nakula menjaga penampilan, Sahadewa menggunakan kecerdasan inovasi untuk masyarakat Badung, dan Darmawangsa filosofinya bagaimana dirinya harus mampu membuat orang sedih menjadi tersenyum.
“Saya contohkan program Krama Badung Sehat, berapapun habis dana berobat menjadi tanggung jawab Pemkab Badung. ‘Kenken carane sebet jadi liang, neraka dadi sorga’. (Bagaimana caranya sedih jadi senang, neraka menjadi surga),” kata Giri Prasta.(anjas)

Leave a Reply