Risma Semangati Warga Saat Refleksi Perobekan Bendera

      Surabaya, jurnalsumatra.com – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyemangati warga Kota Pahlawan saat refleksi  insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) pada 19 September 1945 yang digelar di Kota Surabaya, Jatim, Rabu.
“Biarpun bumi bergoncang. Bulan, bintang dan matahari  mengoyak langit. Kami arek arek Suroboyo bertekad, untuk selalu menjaga dan menghormat, kepada bendera satu, bendera merah putih. Merdeka¿ merdeka¿ merdeka¿..,” kata Wali Kota Surabaya Risma disambut teriakan merdeka oleh para pelajar yang hadir di halaman depan Hotel Majapahit, Jalan Tunjungan, Surabaya.
Risma mengaku refleksi perobekan bendera ini untuk memberikan semangat kepada anak-anak Surabaya untuk selalu berjuang dan tidak pernah menyerah. “Ini untuk menyemangati anak-anak Surabaya supaya tidak pernah kenal takut dan tidak kenal kata menyerah. Makanya kami juga mengundang anak-anak Surabaya ini,” kata Wali Kota Risma seusai acara perobekan bendera.
Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga mengaku senang dan karena warga Surabaya dan arek-arek Suroboyo sangat antusias mengikuti perobekan bendera itu.
Ia menilai bahwa semangat nasionalisme sudah terbentuk dan terbangun di antara anak-anak Surabaya. “Mereka tadi juga berteriak-teriak saat detik-detik perobekan bendera, itu artinya semangat mereka sudah terbentuk dan terbangun. Ini akan terus kita gelorakan supaya mereka tidak kenal dengan kata menyerah,” katanya.
Oleh karena itu, ia berharap supaya anak-anak itu bisa lebih siap dalam menghadapi pertempuran yang sesungguhnya, yaitu kemiskinan dan kebodohan. Sebab, ke depannya mereka akan menghadapi masa yang berat, terutama di tahun 2020 dengan adanya WTO.

       Saat itu, lanjut dia, mereka harus menghadapi anak-anak seluruh dunia. “Kalau hanya dibekali pinter, tidak dibekali daya juang, mereka akan gampang menyerah, padahal dulu kan berjuangnya setengah mati,” ujarnya.
Nantinya, lanjut dia, diharapkan anak-anak itu tidak hanya jadi penonton di kotanya sendiri, tapi mereka harus menjadi tuan dan nyonya serta pemilik di kotanya sendiri.
“Pompa semangat itulah yang kami bangun terus karena merekalah yang mengelola kota ini ke depannya. Nanti akan berat tantangan mereka, karena globalisasi ini sudah mendunia,” katanya.
Peringatan  insiden perobekan bendera itu diperagakan para seniman dengan teatrikal perobekan bendera di tiang tertinggi Hotel Majapahit. Peristiwa itu pecah ketika sekolompok orang Belanda yang dipimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman mendatangi Surabaya dan mengibarkan bendera Belanda tanpa persetujuan Pemerintah RI di Surabaya.
Sontak, sikap mereka itu memicu kemarahan para pemuda Surabaya atau arek-arek Suroboyo. Sebab, mereka menilai Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia dan melecehkan gerakan pengibaran bendera merah putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
“Kurang ajar Belanda mengibarkan benderanya di bumi Surabaya. Ini Indonesia sudah merdeka. Turunkan benderamu,” kata salah satu arek Suroboyo yang saat itu diperankan oleh seniman Surabaya.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − two =