RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Bekali Siswa SMA dan SMK Bantuan Hidup Dasar

YOGYAKARTA –jurnalsumatra.com- Dalam rangka milad ke-95 RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan milad ke-9 RS PKU Muhammadiyah Gamping, diadakan pelatihan “Basic Life Support” bagi pelajar SMA-SMK se-DIY, Senin (19/3/2018).

Kegiatan yang berlangsung di gedung Skill Lab (convention hall) RS PKU Muhammadiyah Gamping, Jalan Wates KM 5,5 Gamping, Sleman, diikuti 220 siswa.

Humas RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta , Eka Budy Santoso, mengatakan, para pelajar yang mengikuti pelatihan bantuan hidup dasar dibekali metode bantuan pasien untuk mempertahankan sirkulasi dan perfusi ke otak, yaitu resusitasi jantung paru otak. “Hal itu sangat penting sekali diketahui siswa yang aktif di bidang kesehatan,” tandas Eka Budy Santoso, yang juga koordinator pengabdian masyarakat RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Gamping.

Saat ini, menurut Eka, minat siswa terhadap pelatihan ini cukup banyak. “Awalnya hanya 80 siswa saja yang mendaftar,” tandas Eka.

Dijelaskan Eka, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Gamping tidak hanya berperan sebagai kuratif. “Tetapi preventif dan promotif, yang salah satunya adalah mengadakan kegiatan pelatihan ini,” kata Eka lagi.

Dalam pelatihan itu, disampaikan edukasi ketika membantu orang yang mengalami patah tulang. Kalau dalam pertolongannya salah, bisa berakibat fatal.

Disampaikan Kepala Humas RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, bantuan hidup dasar seharusnya sudah menjadi tanggung jawab pribadi. Makanya, hal itu diajarkan kepada siswa SMA dan SMK, yang diharapkan bisa menyikapi dengan baik terkait dengan kegawatdaruratan.

Sementara itu, ketika menyampaikan materi bantuan hidup dasar, Irfan Bahtiar Isnaeni, S.Kep.Ns, mengatakan, bantuan kepada pasien bisa kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja. “Kuncinya itu adalah kecepatan dan ketepatan,” tandas Irfan Bahtiar Isnaeni, yang menambahkan bila aliran darah terhenti 3-4 menit maka akan ada kerusakan sel-sel otak.

Dijelaskan Irfan, dalam menolong pasien itu dipastikan aman penolongnya, aman pasien atau korbannya dan aman lingkungannya. “Selain itu, memeriksa respon korban atau pasien dengan memanggil, menepuk bahu atau dengan rangsang nyeri,” tandas Irfan, yang juga menyampaikan rekomendasi American Heart Association (AHA) 2015.

Diuraikan Irfan, penolong awam yang tidak terlatih tidak dianjurkan mengecek nadi. “Tapi dianjurkan kompresi tanpa kombinasi bantuan napas,” papar Irfan, yang aktif di dunia keperawatan selama 15 tahun di IGD RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan LPB PWM DIY sejak tahun 2010. “Karena kombinasi kompresi dan ventilasi dapat membingungkan penolong awam.” (affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + sixteen =