RSUD Wongsonegoro Bagi 1.000 Takjil/Hari

     Semarang, jurnalsumatra.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KRMT Wongsonegoro Semarang membagikan setidaknya 1.000 hidangan takjil/hari untuk berbuka puasa kepada pasien dan keluarganya selama bulan Ramadhan tahun ini.
“Kami bagikan sekitar 1.000 takjil setiap harinya kepada pasien maupun keluarga pasien yang menunggu saudara atau kerabatnya,” kata Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang Dokter Susi Herawati di Semarang, Senin.
Ia menyebutkan hidangan takjil itu mulai makanan kecil, seperti roti, gorengan, hingga minuman ringan, antara lain kolak, es kelapa muda, es sirup, dan sebagainya untuk pasien dan keluarga yang akan berbuka puasa.
Tak hanya itu, kata dia, RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang juga memberikan hiburan musik menjelang berbuka puasa yang dimainkan oleh kalangan karyawan RS tersebut secara bergantian setiap harinya selama Ramadhan.
“Ya, kami kan juga ingin efisiensi. Kalau mengundang pemain musik dari luar kan mahal. Kami punya banyak karyawan yang memiliki talenta bermusik dan mau bermain menghibur pasien dari 1.052 karyawan,” katanya.
Selain untuk menghibur pasien maupun keluarga pasien, Susi mengatakan hiburan musik itu juga diberikan untuk memberikan kesan meriah dan hidup di RS agar menghilangkan kesan menyeramkan, angker, dan sebagainya.

      Mengenai layanan selama Lebaran, ia memastikan pelayanan kesehatan yang diberikan tetap beroperasi selama 24 jam, baik dari layanan instalasi gawat darurat (IGD) hingga dokter rawat jalan yang tetap bekerja.
“Untuk tim medis, sesuai arahan pemerintah libur mulai 11 Juni 2018. Namun, kami mulai libur pada 13 Juni 2018, itupun hanya di polikliniknya. Layanan rawat jalan tetap masuk, dan dokter ‘visit’ 7×24 jam,” katanya.
Ia menyebutkan setidaknya ada tujuh dokter spesialis penyakit dalam dan lima dokter spesialis kandungan yang secara bergantian bertugas selama libur Lebaran 2018, belum termasuk dokter spesialis yang bersiaga.
“Meski libur Lebaran, dokter spesialis kami tetap ada yang ‘visit’. Ya, bagaimana upayanya, dokter spesialis kan tidak hanya satu orang. Misalnya, penyakit dalam ada tujuh dokter, belum yang lainnya,” katanya.
Artinya, kata dia, RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang sebagai RS tipe B akan berupaya semaksimal mungkin melayani penumpang sesuai standar pelayanan yang ditentukan, seperti pasien rawat inap oleh dokter spesialis.
“Dokter jaga ada di IGD, namun mereka berperan sebagai penyambung. Ketika ada pasien yang harus dirawat inap harus tetap dalam pengelolaan dokter spesialis. Yang ‘visit’ juga harus dokter spesialis,” kata Susi.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − five =