Rumah Sakit Daerah Diharapkan Rawat Pasien Difteri

     Banda Aceh, jurnalsumatra.com – Wakil Direktur Pelayanan Medis pada Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh Azharuddin mengharapkan rumah sakit di daerah-daerah merawat pasien difteri dan  tidak langsung merujuk ke rumah sakit milik Pemerintah Aceh tersebut.
“Kami mengimbau rumah sakit di daerah tidak perlu merujuk semua pasien difteri ke RSUDZA. Kami yakin hampir semua rumah sakit di kabupaten/kota di Aceh mampu merawat pasien difteri,” kata Azharuddin di Banda Aceh, Rabu.
Azharuddin mengatakan, saat ini RSUDZA merawat 11 pasien difteri. Jumlah tersebut meningkat dari pekan sebelum. Padahal, jumlah pasien difteri awalnya diprediksi berkurang.
Dengan bertambah jumlah pasien, kata dia, tentu menyulitkan pihak RSUDZA. Sebab, penanganan pasien difteri harus dengan ruangan khusus atau isolasi. Sementara, ruangan isolasi di RSUDZA jumlahnya terbatas.
“Difteri ini penyakit berbahaya dan mudah menular melalui pernapasan. Namun, penanganannya tidak sesulit yang dikira. Penanganan pasien hanya dengan isolasi, tidak dicampur dengan pasien lainnya. Serta memiliki dokter spesialis anak,” sebut dia.
Azharuddin menyebutkan, selama ini ada anggapan jika ada pasien difteri di daerah langsung dirujuk ke RSUDZA. Seharusnya, yang dirujuk itu dengan kondisi medis yang mengkhawatirkan.

     “Sekarang ini tidak, yang belum positif difteri langsung dirujuk ke RSUDZA. Malah ketika dirujuk tanpa ada koordinasi dan komunikasi dengan kami. Seharusnya, koordinasikan dengan kami,” ujar dia.
Oleh karena itu, Azharuddin mengharapkan rumah sakit di daerah tidak langsung merujuk pasien difteri. Rujukan dilakukan bila pasien membutuhkan penanganan serius.
“Seperti pasien membutuhkan bedah saluran pernapasan di leher. Kalau rumah sakit daerah tidak memiliki ahli bedah, kami siap membantu,” kata Azharuddin menyebutkan.
Terkait antiserum difteri atau ADS, Azharuddin menyebutkan, serum tersebut dipasok oleh Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. RSUDZA maupun rumah sakit lainnya tidak menyimpan obat tersebut antidifteri tersebut.
“Rumah sakit mengajukan permohonan serum ke Dinas Kesehatan sesuai kebutuhan. Kami tidak memiliki dan menyimpan serum antidifteri karena kedaluwarsanya sangat singkat,” kata Azharuddin.(anjas)

Leave a Reply