Rumah Sakit Muhammadiyah Tangani Pasien Covid-19

Yogyakarta, jurnalsumatra.com –  Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat Islam yang memiliki amal usaha di bidang kesehatan, yaitu rumah sakit dan klinik Muhammadiyah maupun Aisyiyah, saat ini terlibat dalam ikhtiar membantu negara menangani wabah Covid-19 dengan menunjuk Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) untuk merawat pasien Covid-19. 

Awalnya hanya 20 RSMA, lalu bertambah menjadi 35 dan perkembangan terakhir sudah ada 53 RSMA di seluruh Indonesia yang menerima pasien Covid-19. 

Semua RSMA tersebut di bawah koordinasi Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang tergabung dengan majelis dan lembaga Muhammadiyah lainnya dalam Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), gugus tugas khusus yang ditunjuk untuk menangani wabah Covid-19. 

Menurut dr Ekorini Listiyowati, MMR, Wakil Sekretaris MPKU PP Muhammadiyah, yang dalam struktur MCCC PP Muhammadiyah ditunjuk menangani RSMA, menyampaikan, pada awal penunjukan 20 RSMA ketika menerima pasien Covid-19 tidak semua menyatakan siap. 

“Hal ini dikarenakan kondisi RSMA di seluruh Indonesia berbeda-beda kapasitas dan fasilitas yang dimiliki,” kata Ekorini Listiyowati, Selasa (7/4/2020).

Namun, kepada semua RSMA tersebut ditekankan bahwa siap tidak siap, bukan RSMA yang memilih pasien. “Tapi pasienlah yang memilih RSMA jadi harus siap,” tandas Ekorini Listiyowati.

Awalnya, MCCC PP Muhammadiyah meminta semua direktur RSMA yang ditunjuk untuk memberi satu nama sebagai komandan penanganan Covid-19. 

Bersama para komandan dan wakil dari MPKU wilayah di mana RSMA itu berada, MCCC PP Muhammadiyah berdiskusi dan bertukar banyak informasi tentang penanganan pasien Covid-19.

Pada 9 Maret 2020 di Kantor PP Muhammadiyah Jl Menteng, Jakarta, perwakilan semua RSMA tersebut dikumpulkan untuk koordinasi awal. 

Kendala terbesar yang dihadapi RSMA dalam penanganan pasien Covid-19 adalah kekurangan Alat Perlindungan Diri (APD). “Masalah sama yang juga dihadapi semua rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta lain,” kata Ekorini Listiyowati, yang menambahkan tidak hanya di Indonesia saja tapi juga seluruh dunia. 

Dikatakan  Ekorini, banyak RSMA yang tidak siap dengan coverall dan face shield. Dalam perkembangannya, segala macam APD mengalami kelangkaan serta lonjakan harga.

Untuk menyiasati itu kemudian disusunlah proposal penggalangan dana. Selain itu, MPKU juga mempersiapkan RSMA yang menangani pasien Covid-19 dengan pelatihan-pelatihan khusus agar para tenaga kesehatannya siap. 

Pelatihan-pelatihan itu di antaranya alur penanganan pasien dengan skenario yang disimulasikan, pelatihan pemakaian dan pelepasan APD lengkap, pelatihan rukti jenazah, pelatihan teknik dekontaminasi ruangan, benda-benda dan ambulans, pelatihan pengambilan sample swap tenggorokan, pelatihan screening dan deteksi dini, pendampingan rohani serta pelatihan manajemen stres. 

Selain penyiapan berbagai fasilitas dan sumber daya manusia, MPKU juga menekankan kepada seluruh tenaga kesehatan RSMA bahwa keterlibatan dalam penanganan pasien Covid-19 adalah jihad kemanusiaan, sebagaimana ditekankan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nasir, MSi, mengingat risiko bagi tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 cukup besar. 

“Terbukti beberapa dokter dan perawat di rumah sakit pemerintah dan swasta gugur dalam tugas karena terpapar virus,” terang Ekorini Listiyowati.

Untuk mengantisipasi nakes dari risiko tertular Covid-19 tersebut, Ekorini menyampaikan pihaknya menyiapkan langkah-langkah, antara lain karantina di rumah atau disiapkan oleh rumah sakit, pemeriksaan radiologi thorax sesuai indikasi, pemeriksaan rapid test dan pemeriksaan swab tenggorok sesuai indikasi. 

Terkait dengan kapasitas RSMA yang suatu saat bisa jadi mengalami over kapasitas, Ekorini menyampaikan bahwa pihaknya juga menyiapkan surge capacity plan, yaitu dengan menambah kapasitas ruang untuk layanan Covid-19. 

Mungkin, semula hanya punya 1-2 tempat tidur isolasi, sekarang sudah bertambah. Ada yang menjadi 5, 10 hingga 15 tempat tidur.

Antisipasi ini dilakukan karena merujuk pasien ke rumah sakit pemerintah dalam kondisi sekarang bukan perkara mudah karena kapasitas yang sudah penuh. 

Dalam menghadapi wabah Covid-19 ini seluruh RSMA saat ini juga sudah meniadakan jam bezuk pasien reguler untuk meminimalisir penyebaran wabah. “Awal kebijakan ini dilaksanakan, meskipun sempat ada komplain dari masyarakat tetapi akhirnya dapat dipahami,” jelas Budi Santoso, S.Psi dari tim media MCCC PP Muhammadiyah. (Affan)