Sejarah Singkat Perang Lima Hari Lima Malam Palembang

AKHIR  tahun 1946, Batalyon Infanteri X KNIL, yang dikenal sebagai Gajah Merah, tiba di Palembang. Menurut catatan Gedenkschrift Koninklijk Nederlands Indisch Leger 1830-1950 (1990:56), batalyon ini terbentuk di Thailand pada Oktober 1945. Isinya bekas tawanan perang berkebangsaan Belanda maupun orang-orang Indonesia atau Indo. Batalyon ini pernah beraksi di Bali dan Lombok.

Pasukan itu bukan satu-satunya kesatuan tentara Belanda yang berada di Palembang.

Menurut Alamsyah Ratu Perwiranegara, dalam autobiografi Haji Alamsyah Ratu Perwiranegara: Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim (1995:49) yang disusun Suparwan Parikesit & Krisna Sempurnajaya, komandan batalyon itu adalah Letnan Kolonel van boek

Batalyon ini berbasis di bukit dekat Rumah Sakit Charitas. Batalyon ini berada dalam Brigade V pimpinan Kolonel Mollinger. Dalam brigade itu tentu ada pasukan yang lain lagi. Termasuk satuan lapis baja pimpinan Mayor Cassa yang berkedudukan di Plaju, tak jauh dari instalasi minyak BPM Plaju.

Belanda menunjuk seorang residen untuk mengendalikan Palembang. Dan residen yang berada di Palembang adalah M.J. Wijnmaalen. Ia dibantu seorang sekretaris bernama C. van Grand.

Dari sisi Indonesia, Adnan Kapau Gani memainkan peran yang signifikan di Sumatera. Menurut catatan Mestika Zed, dalam Giyugun: Cikal-bakal Tentara Nasional di Sumatera (2005:141), meski di sekitar Palembang, juga kota lain di Sumatera, terdapat banyak mantan tentara sukarela Jepang (Gyugun), namun Gani tidak memilih perwira dari kalangan itu. Gani malah memilih bekas KNIL dan alumnis Legiun Mangkunegara bernama Soehardjo Hardjowardojo untuk menjadi Panglima Komandemen Tentara Republik Indonesia (TRI) Sumatera.

Di masa-masa damai setelah perundingan di Linggajati, menurut Alamsyah dalam autobiografinya (1995:51-52), Soehardjo selaku panglima di Sumatera mengeluarkan perintah harian melalui RRI Palembang. Ia yang pada 1946 itu berusia 45 tahun memerintahkan agar pasukan-pasukan TRI di kota-kota di Sumatera yang posisinya tidak jauh dari tentara Belanda untuk waspada, sambil menunggu perintah dari pusat.

Pengumuman itu, menurut Alamsyah, membuat pihak Belanda menuduh TRI hendak menyerang. Situasi mulai memanas. Konflik makin runcing saat seorang anggota laskar Napindo bernama Nangcik tertembak ketika melintasi Benteng pada 28 Desember 1946.

Malamnya beberapa serdadu Belanda yang mengendarai jeep melepaskan beberapa tembakan di daerah yang kini bernama Jalan Merdeka, Jalan Tenguruk juga sekitar Rumah Sakit Charitas.

Tentu saja pihak Indonesia berang. Esoknya suasana semakin memanas dan terjadi pertempuran selama 13 jam sejak pukul 09.00 pagi. Petinggi militer juga sipil Indonesia dan Belanda pun bersepakat menghentikan pertempuran. Namun kondisi ini sementara saja, hanya bertahan hitungan hari, sampai tahun 1946 berakhir saja.

Berita pertempuran di Palembang dua hari sebelum tahun baru itu sampai juga ke Prabumulih yang menjadi markas Resimen XVII. Menurut catatan Payung Bangun dalam buku Kolonel Maludin Simbolon: Lika-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Indonesia (1996:), Komandan Resimen XVII, Dani Effendi, mendapat laporan dari seorang perwira intel. Dia pun membawa dua kompi pasukannya ke Palembang.

Gencatan senjata yang baru berlangsung beberapa hari sebelumnya pun musnah. Lima jam setelah pergantian tahun, saat fajar 1 Januari 1947, terjadi insiden di Palembang Ilir. Segerombolan serdadu Belanda melintas di garis demarkasi dengan menaiki jeep yang melaju cepat sembari memberondongkan peluru. Setelah itu, markas Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) di Jalan Tengkuruk juga diserang.

“Itulah awal dimulainya perang lima hari lima malam di kota Palembang,” aku Ibnu Sutowo dalam buku Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita (2008:113). Pangkat Ibnu Sutowo kala itu Mayor dan masih menjadi perwira kesehatan.

Tanpa harus berbasa-basi, pasukan-pasukan Republiken, baik tentara maupun laskar, pun langsung merespons. Mereka menyebar di berbagai posisi yang menjadi basis serdadu-serdadu Belanda. Di antaranya adalah Benteng, Charitas, Gedung Borsumij 13 Ilir, Boom Yetty, Sekanak, BPM Handelzaken, IMP, Talang Semut, Bagus Kuning dan Plaju.

Dari semua sasaran, Charitas dan Benteng adalah sasaran yang terlalu kuat untuk dihadapi. Tentara Belanda bertempur solid di dua titik itu. Jika satu pos diserang, maka pos lain membantu.

“Bantuan itu sering berupa tembakan mortir atau howitzer atau dukungan tembakan dari kapal De Ruiter. Kapal Belanda memang sering hilir mudik di Sungai Musi, khususnya jenis korvet. Kapal seperti itu sering melepaskan tembakan membabi-buta dengan Howitzer ke arah Masjid Agung, 26 Ilir dan sekitar Rumah Sakit Charitas,” aku Alamsyah (1995:55).

Pertempuran hari pertama, 1 Januari 1947 itu, sempat mereda selama setengah jam pada pukul 16.00 sore. Tapi setengah jam kemudian, pertempuran berlanjut kembali.

Dalam pertempuran di hari pertama, Belanda menduduki Kantor Walikota, Kantor Pos, Kantor Residen di Jalan Merdeka pada siang hari. Namun pasukan-pasukan Republiken tak mau menyerah. Malam hari pasukan Republiken masih melancarkan serangan.

Esoknya, pada 2 Januari 1947, pertempuran kembali berlanjut. Di sekitar Charitas, pangkalan Batalyon Gajah Merah terus dikepung. Di tempat lain, rebut-merebut wilayah juga masih terjadi.

Dalam pertempuran hari kedua, Ibnu Sutowo kehilangan salah satu pasiennya. Letnan Rifai, sang pasien, sebetulnya baru saja dirawat karena terkena tembakan di sebuah front.

“Saya baru saja selesai merawat lukanya akibat terkena tembakan dalam insiden sebelumnya. Tetapi tanpa seizin saya, ia bergabung lagi dengan pasukannya di Sungai Jeruju,” aku Ibnu Sutowo. Tak tanggung-tanggung, Letnan Rifai kemudian ditembak dengan peluru kaliber 12,7.

“Tanggal 3 Januari saya dengar Kolonel Mollinger mengeluarkan perintah kepada pasukannya, darat, laut dan udara untuk menghancurkan garis pertahanan pasukan RI,” aku Alamsyah (1995:63).

Seperti hari kemarin, pasukan lapis baja militer Belanda pada 3 Januari juga beraksi. Di hari keempat, wilayah yang dikuasai militer Indonesia makin menyempit. Meski begitu pertempuran berlanjut. Rupanya bala bantuan bagi pasukan Republik di Palembang datang dari Lampung yang dipimpin Nurdin Panji dan dari Lahat yang dipimpin Harun Sohar.

Di hari kelima, Gubernur Muda Sumatera Selatan, M. Isa, Kolonel Bambang Utoyo dan Komisaris Besar Mursodo datang ke kantor staf komando. Alamsyah mengaku mereka meminta pendapatnya.

“Kita akan hancur total jika terus bertempur sebab tiga perempat dari kekuatan dan persenjataan seluruh Sumatera Selatan berada di kota Palembang,” kata Alamsyah (1995:68) kepada mereka.

Bagi Alamsyah perang masih panjang. Daripada kehilangan lebih banyak pasukan lagi, maka gencatan senjata penting sekali dicapai.

Perundingan terjadi pada sore hari 5 Januari di Rumah Sakit Charitas. Dalam perundingan, pihak Belanda meminta seluruh pasukan RI mengosongkan Palembang. Tuntutan itu ditolak Bambang Utoyo selaku wakil Republik.

Yang kemudian disepakati adalah, pasukan darat dari unsur TRI juga laskar akan menarik diri dari kota. Hanya polisi dan Angkatan Laut saja yang masih boleh berada di Palembang. Pasukan TRI dan laskar hanya boleh ada di Palembang paling dekat dalam radius 20 km, sementara Belanda paling jauh hanya boleh bikin pos 14 km dari pusat kota Palembang.

Gencatan senjata akhirnya kembali disepakati di tengah kota Palembang yang mengalami kerusakan berat.(dd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 10 =